Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap modus penipuan daring yang kembali marak, khususnya yang memanfaatkan tautan video viral sensasional. Salah satu jebakan terbaru yang teridentifikasi adalah link video berjudul ‘Ibu Tiri vs Anak Tiri’. Namun, alih-alih menyajikan konten yang dijanjikan, tautan tersebut merupakan upaya yang mengintai pengguna.

Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Bareskrim Polri pada awal tahun 2026 telah berulang kali mengingatkan publik mengenai peningkatan serangan siber, termasuk phishing, yang memanfaatkan isu-isu populer atau kontroversial sebagai umpan. Modus ini dirancang untuk memancing rasa penasaran pengguna agar mengklik tautan tanpa berpikir panjang.

Bagaimana Modus Phishing Ini Bekerja?

Ketika pengguna mengklik tautan ‘video viral’ tersebut, mereka tidak akan diarahkan ke platform berbagi video seperti YouTube atau TikTok. Sebaliknya, tautan tersebut akan membawa korban ke halaman palsu yang menyerupai situs login media sosial, perbankan, atau platform digital lainnya. Pada beberapa kasus, tautan berbahaya ini bahkan dapat memicu pengunduhan otomatis perangkat lunak berbahaya atau malware ke perangkat korban.

Tujuan utama para pelaku kejahatan siber adalah mencuri informasi sensitif seperti nama pengguna, kata sandi, nomor kartu kredit, atau data pribadi lainnya. Data yang berhasil dicuri kemudian dapat digunakan untuk berbagai tindak kejahatan, mulai dari pembobolan akun, transaksi finansial ilegal, hingga penyalahgunaan identitas.

Ancaman Serius bagi Keamanan Digital

Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat bahwa serangan phishing terus menjadi ancaman dominan dalam lanskap keamanan siber Indonesia. Pada tahun 2025, ribuan insiden terkait phishing dilaporkan, menunjukkan betapa efektifnya metode ini dalam mengeksploitasi kelengahan pengguna. “Literasi digital dan kehati-hatian adalah kunci utama untuk membentengi diri dari serangan siber,” ujar seorang pakar keamanan siber dari BSSN, yang enggan disebutkan namanya, pada sebuah seminar daring bulan lalu.

Pakar tersebut menambahkan, “Para pelaku kejahatan siber selalu mencari celah psikologis, dan konten viral yang memicu rasa ingin tahu adalah salah satu alat paling ampuh mereka.” Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk selalu skeptis terhadap tautan yang tidak dikenal, terutama yang disebarkan melalui pesan instan atau media sosial dengan narasi yang provokatif.

Langkah Pencegahan yang Perlu Diambil

Untuk menghindari menjadi korban phishing, ada beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan:

  • Verifikasi Sumber: Selalu periksa keaslian tautan sebelum mengkliknya. Perhatikan alamat URL; seringkali ada perbedaan kecil dari situs resmi.
  • Jangan Mudah Terpancing: Hindari mengklik tautan yang menjanjikan konten sensasional atau terlalu bagus untuk menjadi kenyataan.
  • Gunakan Aplikasi Resmi: Akses platform media sosial atau perbankan melalui aplikasi resmi yang diunduh dari toko aplikasi terpercaya.
  • Aktifkan Otentikasi Dua Faktor (2FA): Fitur ini menambah lapisan keamanan dengan memerlukan kode verifikasi tambahan saat login.
  • Perbarui Perangkat Lunak: Pastikan sistem operasi dan aplikasi di perangkat Anda selalu diperbarui untuk mendapatkan patch keamanan terbaru.
  • Laporkan: Jika menemukan tautan mencurigakan, segera laporkan kepada pihak berwenang atau penyedia layanan terkait.

Mengingat semakin canggihnya modus penipuan siber, kewaspadaan dan edukasi berkelanjutan menjadi sangat penting. Jangan biarkan rasa penasaran mengorbankan keamanan data pribadi Anda.