Sebuah tautan video berjudul ‘Ibu Tiri vs Anak Tiri VIDEO BERDURASI 7 MENIT’ kembali beredar luas di berbagai platform media sosial dan aplikasi pesan instan. Pakar keamanan siber memperingatkan masyarakat untuk tidak sembarangan mengklik tautan tersebut karena berpotensi menjadi jebakan phishing atau penyebaran malware yang dapat membahayakan data pribadi dan perangkat.
Modus Operandi dan Ancaman Tersembunyi
Tautan viral semacam ini seringkali memanfaatkan judul yang sensasional dan provokatif untuk menarik perhatian pengguna internet. Dengan embel-embel durasi video yang spesifik, seperti ‘7 menit’, pelaku kejahatan siber berusaha menciptakan kesan bahwa konten tersebut asli dan penting untuk ditonton. Namun, di balik daya tarik tersebut, tersimpan ancaman serius.
Menurut analisis pakar keamanan siber, modus operandi yang umum adalah mengarahkan korban ke situs web palsu yang menyerupai platform media sosial atau layanan populer. Di sana, pengguna akan diminta untuk memasukkan kredensial login mereka, seperti nama pengguna dan kata sandi, yang kemudian akan dicuri oleh pelaku. Selain itu, tautan tersebut juga bisa menjadi pintu masuk bagi malware atau virus yang secara otomatis terunduh ke perangkat, memungkinkan pelaku mengambil alih kendali perangkat, mencuri data, atau bahkan melakukan transaksi finansial tanpa sepengetahuan korban.
Imbauan dari Pakar Keamanan Siber
Dr. Budi Santoso, seorang peneliti keamanan siber dari Universitas Teknologi Digital, menegaskan pentingnya kewaspadaan digital. “Masyarakat harus sangat berhati-hati dengan tautan yang tidak jelas sumbernya, terutama yang menawarkan konten sensasional. Jangan mudah tergiur dengan judul yang provokatif,” ujarnya pada Selasa, 17 Maret 2026.
Ia menambahkan, “Sebelum mengklik tautan apa pun, selalu periksa URL-nya. Pastikan itu adalah alamat yang sah dan bukan alamat yang mencurigakan dengan kombinasi huruf dan angka acak. Jika ragu, lebih baik tidak diklik sama sekali.” Dr. Budi juga menyarankan penggunaan perangkat lunak antivirus yang mutakhir dan selalu memperbarui sistem operasi perangkat untuk meminimalisir risiko.
Langkah Pencegahan dan Peran Masyarakat
Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) serta Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) secara rutin mengimbau masyarakat untuk meningkatkan literasi digital dan tidak mudah percaya pada informasi atau tautan yang belum terverifikasi. Jika menemukan tautan mencurigakan, masyarakat disarankan untuk melaporkannya kepada pihak berwenang atau platform terkait agar dapat segera ditindaklanjuti.
Pencegahan terbaik adalah dengan selalu bersikap skeptis terhadap konten yang terlalu bagus untuk menjadi kenyataan atau yang memancing rasa penasaran secara berlebihan. Memverifikasi informasi dari sumber resmi dan tidak membagikan tautan yang belum dipastikan keamanannya adalah langkah krusial dalam menjaga keamanan siber kolektif.
