Sebuah video yang memperlihatkan sekelompok warga negara Indonesia (WNI) melakukan tradisi membangunkan sahur di jalanan Jepang kembali viral di media sosial. Konten ini memicu perdebatan sengit dan menuai kecaman publik, terutama karena dianggap tidak menghormati norma ketenangan yang berlaku di negara tersebut. Namun, pemerhati konten digital mengungkap fakta bahwa video tersebut merupakan rekaman lama yang diduga telah mengalami proses penyuntingan.

Video Aksi Sahur Keliling WNI di Jepang Picu Kontroversi

Dalam rekaman yang beredar luas, terlihat sejumlah pemuda berjalan menyusuri trotoar di sebuah pemukiman padat penduduk yang sunyi pada tengah malam. Mereka membawa alat musik darurat berupa ember plastik dan berteriak dengan suara yang cukup lantang untuk membangunkan warga sekitar. Aksi ini terekam jelas oleh kamera ponsel salah satu peserta.

Video tersebut menjadi viral setelah sebuah akun media sosial X milik warga Jepang membagikan ulang dengan nada keberatan yang sangat kuat. Pemilik akun tersebut merasa terganggu dengan kebisingan yang diciptakan oleh kelompok remaja tersebut di lingkungan tempat tinggalnya. Unggahan ini telah ditonton jutaan kali oleh publik internet.

Fakta di Balik Video Viral: Rekaman Lama dan Diduga Editan

Pemerhati konten digital, Issei Nugroho, melalui akun YouTube-nya, memberikan keterangan mengenai detail waktu dan aspek teknis video tersebut. Ia menyoroti kejanggalan yang ditemukan dalam rekaman.

“Di situ terlihat kalau ada tulisan 1444 Hijriah yang artinya video ini diambil dari tahun 2023,” ujar Issei Nugroho.

Selain itu, Issei juga mengamati aspek teknis suara dalam video pendek tersebut.

“Kalau kalian dengarkan baik-baik audio sama gerakan orang di video tersebut tidaklah sesuai,” tuturnya.

Ia menjelaskan bahwa ada kemungkinan besar suara dalam video tersebut telah mengalami proses penyuntingan. Kejanggalan lain juga ditemukan pada gerakan tubuh para pemeran.

“Dan lebih teliti lagi mereka tidak benar-benar memukul embernya,” jelasnya.

Indikasi ini menunjukkan bahwa video tersebut kemungkinan besar adalah konten yang diatur atau direkayasa.

Budaya Ketenangan Jepang dan Reaksi Negatif Publik

Meskipun terdapat berbagai kejanggalan secara teknis, reaksi negatif dari masyarakat Jepang tetap tidak dapat dihindarkan. Budaya Jepang sangat menjunjung tinggi ketenangan di ruang publik, terutama saat malam hari tiba. Segala bentuk kebisingan yang tidak perlu dianggap sebagai tindakan yang tidak menghargai orang lain.

Unggahan tersebut juga berdampak pada pandangan masyarakat internasional terhadap keberadaan warga negara asing yang tinggal dan bekerja di sana. Hal ini menjadi diskusi serius di berbagai forum komunitas ekspatriat mengenai pentingnya menjaga sikap di negeri orang, melebar menjadi pembahasan tentang etika sosial.

Muncul dugaan bahwa konten ini sengaja diangkat kembali ke internet, meskipun sudah direkam sejak setahun yang lalu, untuk memicu kemarahan publik demi mendapatkan jumlah interaksi yang tinggi.

Kecaman Keras Netizen Indonesia

Fenomena ini memicu respons keras dari netizen Indonesia yang merasa tindakan para remaja dalam video tersebut sangat tidak pantas untuk dilakukan di luar negeri. Berbagai komentar pedas membanjiri kolom diskusi.

“Lupa diri dmn tmpt berpijak,” tulis seorang netizen.

Komentar lain menyoroti kurangnya pemahaman tentang etika dasar saat berada di wilayah kebudayaan yang berbeda.

“Dibilang sdm rendah marah, tapi pribahasa tentang ‘di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung ‘ saja tidak tau,” tulis netizen tersebut.

Gelombang kecaman terus mengalir karena publik merasa reputasi bangsa sedang dipertaruhkan oleh segelintir orang lewat konten digital. Netizen menekankan bahwa menghormati aturan setempat adalah kewajiban mutlak bagi siapa saja. Tanpa kesadaran tersebut, citra negatif terhadap pendatang akan sulit dihilangkan.

Para netizen juga mengingatkan kembali pentingnya mempelajari budaya negara tujuan sebelum memutuskan untuk menetap atau sekadar berkunjung ke sana.

“Sangat memalukan jika harus membawa kebiasaan buruk ke lingkungan yang sudah tertata rapi,” ungkap salah satu pengguna media sosial.

Hingga berita ini diturunkan, masih belum ada klarifikasi resmi dari pihak pemuda Indonesia yang terlibat maupun akun X warga Jepang yang membagikan ulang video tersebut.