Sebuah video yang menampilkan dugaan kekerasan seorang ibu tiri terhadap anak tirinya di Jakarta Selatan mendadak viral di media sosial sejak awal Maret 2026. Rekaman berdurasi sekitar dua setengah menit itu memicu gelombang kecaman dari warganet, mendorong (KPAI) dan pihak kepolisian untuk segera mengambil tindakan investigasi.

Dalam video yang beredar luas, terlihat seorang perempuan dewasa, yang diidentifikasi sebagai ibu tiri, membentak dan mendorong seorang remaja laki-laki. Remaja tersebut, yang diduga adalah anak tirinya, tampak membalas dengan kata-kata kasar, menciptakan suasana konflik yang tegang di dalam sebuah rumah. Insiden ini diduga dipicu oleh masalah sepele terkait tugas rumah tangga dan penggunaan ponsel, namun menguak dinamika emosional yang kompleks dalam keluarga tersebut.

Reaksi publik sangat cepat dan masif. Tagar #SaveAnakTiri dan #KekerasanDalamKeluarga ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial, menuntut perlindungan bagi korban dan penegakan hukum terhadap pelaku. Banyak netizen menyuarakan keprihatinan mendalam terhadap kondisi anak tiri yang kerap rentan terhadap perlakuan tidak menyenangkan.

KPAI Ambil Langkah Cepat

Menanggapi kegaduhan ini, KPAI langsung bergerak cepat. Komisioner KPAI Bidang Perlindungan Anak, Retno Listyarti, menyatakan pihaknya telah menerima laporan dan segera melakukan koordinasi dengan pihak terkait. “Kami sudah menerima aduan masyarakat dan sedang mendalami kasus ini. Prioritas kami adalah memastikan keselamatan dan hak-hak anak terlindungi,” ujar Retno pada Jumat, 13 Maret 2026.

KPAI juga berencana untuk memanggil kedua belah pihak, termasuk ayah dari anak tersebut, untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Sementara itu, mengonfirmasi telah memulai penyelidikan. Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Jakarta Selatan, Kompol Irwansyah, menyatakan bahwa timnya sedang mengumpulkan bukti dan keterangan saksi. “Kami akan menindaklanjuti setiap laporan dugaan kekerasan, terutama yang melibatkan anak-anak. Proses hukum akan berjalan sesuai prosedur,” tegas Kompol Irwansyah.

Akar Masalah dan Dampak Psikologis

Kasus ini kembali menyoroti kompleksitas hubungan dalam keluarga tiri dan pentingnya komunikasi yang sehat. Psikolog anak, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, M.Psi., menyoroti bahwa konflik dalam keluarga tiri seringkali berakar pada adaptasi yang sulit dan kurangnya pemahaman peran. “Hubungan ibu tiri dan anak tiri memang memiliki tantangan tersendiri. Penting bagi orang tua untuk membangun komunikasi yang terbuka dan empati, serta menghindari kekerasan fisik maupun verbal yang bisa berdampak jangka panjang pada psikologis anak,” jelas Vera.

Vera menambahkan, anak yang mengalami kekerasan, baik fisik maupun verbal, cenderung mengalami trauma, kecemasan, hingga masalah perilaku. Oleh karena itu, penanganan kasus ini tidak hanya berfokus pada aspek hukum, tetapi juga pada pemulihan psikologis korban. Masyarakat diharapkan untuk terus melaporkan setiap dugaan kekerasan anak agar dapat ditangani oleh pihak berwenang.