Sebuah video yang menampilkan seorang ibu tiri berinteraksi dengan anaknya secara tidak biasa mendadak viral di berbagai platform media sosial sejak akhir Maret 2026. Video tersebut memicu perdebatan sengit di kalangan warganet, dengan banyak yang mengecam dugaan perlakuan tidak pantas, sementara pihak keluarga mengklaim bahwa itu hanyalah bagian dari konten biasa yang dibuat untuk tujuan edukasi.
Dalam video yang berdurasi singkat tersebut, terlihat seorang perempuan yang diidentifikasi sebagai ibu tiri, Rina, melakukan tindakan yang dinilai sebagian netizen kurang etis terhadap anak tirinya, Dani. Rekaman tersebut dengan cepat menyebar dan telah ditonton jutaan kali, memicu gelombang komentar negatif dan seruan untuk penyelidikan lebih lanjut.
Klarifikasi dari Pihak Keluarga
Menanggapi kehebohan yang terjadi, Rina bersama suaminya, Budi, yang juga ayah dari Dani, akhirnya angkat bicara. Keduanya memberikan klarifikasi melalui sebuah video terpisah yang diunggah beberapa hari kemudian. Mereka menegaskan bahwa adegan dalam video viral tersebut sepenuhnya adalah rekayasa atau skenario yang dibuat untuk konten media sosial.
“Kami tidak bermaksud buruk, ini hanya skenario untuk menunjukkan tantangan dalam keluarga tiri,” ujar Rina dalam klarifikasinya, mencoba meredakan kemarahan publik. Budi menambahkan, “Semua sudah kami diskusikan, Dani (anak) juga paham ini hanya akting dan dia tidak merasa tertekan.”
Menurut pasangan tersebut, tujuan pembuatan konten itu adalah untuk mengedukasi masyarakat tentang dinamika dan potensi konflik dalam keluarga tiri, serta bagaimana cara mengatasinya. Namun, mereka mengakui bahwa penyampaian pesan tersebut mungkin disalahpahami oleh sebagian besar penonton.
Tanggapan Komisi Perlindungan Anak Indonesia
Viralnya video ini turut menarik perhatian Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). KPAI mengingatkan para kreator konten, khususnya yang melibatkan anak-anak, untuk lebih bijak dan bertanggung jawab dalam setiap materi yang dipublikasikan. Mereka menekankan pentingnya mempertimbangkan dampak psikologis dan persepsi publik terhadap anak yang terlibat dalam konten.
“Kami mengimbau agar para orang tua dan kreator konten lebih berhati-hati. Meskipun tujuannya edukasi, jika melibatkan anak-anak, harus dipastikan tidak ada eksploitasi atau potensi dampak negatif pada tumbuh kembang mereka,” kata seorang perwakilan KPAI dalam sebuah pernyataan pers. KPAI juga menyatakan akan terus memantau perkembangan kasus ini dan siap memberikan pendampingan jika diperlukan.
Insiden ini kembali membuka diskusi luas di masyarakat mengenai etika pembuatan konten di media sosial, batas antara hiburan dan eksploitasi, serta peran orang tua dalam melindungi anak-anak dari dampak negatif dunia maya.
