Dokter Richard Lee, seorang figur publik yang dikenal melalui konten edukasi kecantikan, ditetapkan sebagai tersangka dan langsung ditahan di rumah tahanan Polda Metro Jaya pada Jumat, 6 Maret 2026. Penahanan ini mengejutkan banyak pihak, mengingat aktivitasnya yang masih terlihat sibuk dengan berbagai kegiatannya, termasuk podcast.
Kronologi Penahanan Dokter Richard Lee
Penetapan status tersangka terhadap Dokter Richard Lee bermula dari laporan Dokter Amira Farahnaz, yang juga dikenal sebagai Dokter Samira atau dokter detektif (doktif). Laporan tersebut diajukan atas dugaan kasus pelanggaran perlindungan konsumen.
Doktif melaporkan bahwa ia telah membeli sejumlah produk kosmetik dari klinik kecantikan milik Dokter Richard Lee melalui berbagai marketplace pada periode Oktober-November 2024. Produk-produk yang dibeli, antara lain Tomato, DNA Salmon, dan Miss V Stem Cell by Athena Group, dengan nilai jutaan rupiah, disebutnya bermasalah.
Permasalahan yang ditemukan pada produk-produk tersebut meliputi kondisi yang tidak steril, kandungan yang tidak sesuai dengan label, hingga dugaan pengemasan ulang produk lain. Atas dasar laporan tersebut, Polda Metro Jaya secara resmi menetapkan Dokter Richard Lee sebagai tersangka pada 15 Desember 2025, sebelum akhirnya dilakukan penahanan pada awal Maret 2026.
Diskusi Takdir dengan Ustaz Khalid Basalamah
Sebelum penahanannya, Dokter Richard Lee sempat menjadi sorotan publik karena pertemuannya dengan Ustaz Khalid Basalamah dalam sebuah podcast. Dalam kesempatan tersebut, Dokter Richard Lee mengajukan pertanyaan mengenai konsep takdir yang memicu respons dari sang ustaz.
“Kalau misalnya takdir tidak bisa diubah, untuk apa kita berdoa, kita berusaha? Kalau memang takdir itu sudah ada tulisannya, Saya ditakdirkan kaya raya luar biasa, susah ditakdirkan susah, miskin, dan sebagainya. Apapun usaha saya, saya tetap akan seperti itu,” tanya Dokter Richard Lee, seperti dikutip dari akun Threads @muslimharustahu pada Minggu, 8 Maret 2026.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Ustaz Khalid Basalamah sempat mewanti-wanti Dokter Richard Lee untuk meluruskan niat di balik pertanyaannya. “Bedakan pertanyaan dokter, mau mencari informasi dan kebenaran atau mencari kebenaran dengan dimulai ingin membangkang,” ujar Ustaz Khalid.
Ustaz Khalid kemudian memberikan perumpamaan untuk menjelaskan perbedaannya, dengan membandingkan sosok Firaun dan Nabi Musa. “Apa bedanya Firaun sama Nabi Musa? Nabi Musa dikasih wahyu terima, diperintahkan apa terima. Firaun disampaikan penyampaian menolak,” jelasnya.
Ia juga mencontohkan perbedaan antara orang yang bertanya kepada dosen untuk belajar dan mendapatkan ilmu, dengan orang yang menantang dosen hanya untuk menunjukkan kehebatannya sendiri. Menurutnya, orang dengan niat terakhir tidak akan mudah menerima apa pun yang disampaikan.
“Kalau tujuannya mencari kebenaran akan mudah memahami, kalau dari awal dalam hati sudah nggak mau terima itu akan susah menerima,” imbuh Ustaz Khalid.
Lebih lanjut, Ustaz Khalid Basalamah menerangkan fungsi akal manusia dalam memahami wahyu dan pentingnya mengimani Tuhan serta rasul-Nya. “Fungsi akal untuk memahami wahyu, bukan mengatur wahyu. Tolak ukur otak manusia akan terus bentrok. Itulah sebabnya ada wahyu turun, konsep yang menyatukan kalian. Ada masalah rumah tangga, pekerjaan, politik, kembalikan kepada Allah dan Rasulnya pasti akan temukan solusinya,” pungkasnya.
Diskusi mendalam mengenai takdir ini terjadi beberapa waktu sebelum Dokter Richard Lee menghadapi proses hukum dan penahanan terkait dugaan pelanggaran perlindungan konsumen.
