Dua bocah laki-laki berusia 8 tahun ditemukan meninggal dunia setelah tenggelam di kubangan bekas tambang galian C sedalam tiga meter yang terbengkalai di Dukuh Pedak Kulon, Desa Klumpit, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus. Peristiwa memilukan ini terjadi pada Sabtu (20/12), saat kedua korban sedang bermain di sekitar lokasi.

Korban diidentifikasi sebagai Ahmad Syukron Ma’mun dan Muhammad Abraham Dhiyauddin, keduanya merupakan warga setempat. Berdasarkan informasi yang dihimpun, kejadian bermula sekitar pukul 13.30 WIB ketika kedua korban bersama seorang teman sebayanya bermain di kawasan bekas tambang tersebut. Didorong rasa ingin tahu, Syukron dan Abraham memutuskan masuk ke dalam kubangan berukuran 2 x 7 meter untuk berenang.

Seorang teman lainnya memilih untuk tetap berada di tepi dan tidak ikut masuk ke dalam air yang berwarna cokelat keruh. Namun, kegembiraan itu berubah menjadi kepanikan saat saksi melihat kedua temannya tidak kunjung muncul ke permukaan setelah menyelam. Teman korban segera berteriak meminta tolong.

“Warga yang mendengar teriakan minta tolong dari teman korban langsung beramai-ramai menuju lokasi kejadian untuk melakukan pencarian,” ujar Rohmat, Ketua RT setempat.

Laporan tenggelamnya korban segera diteruskan ke Bhabinkamtibmas. Warga bersama petugas kepolisian berupaya menyisir dasar kubangan yang memiliki kondisi licin dan berlumpur. Sekitar pukul 14.00 WIB, kedua bocah malang tersebut berhasil ditemukan dalam kondisi sudah tidak bernyawa.

Bhabinkamtibmas Desa Klumpit, Aipda Eko Hadi Pranoto, mengonfirmasi bahwa setelah dievakuasi, jenazah kedua korban langsung dilarikan ke RSI Sunan Kudus untuk menjalani pemeriksaan medis menyeluruh. “Setelah dilakukan pemeriksaan medis di RSI Sunan Kudus, jenazah kedua korban langsung diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan,” jelas Eko Hadi.

Eko Hadi menyayangkan peristiwa ini kembali terjadi, meskipun pihaknya telah berulang kali memberikan imbauan agar warga, terutama anak-anak, menjauhi kawasan bekas tambang yang berbahaya tersebut. Kondisi tanah yang licin akibat hujan lebat serta kedalaman air yang menipu menjadi ancaman nyata.

Menindaklanjuti tragedi ini, pihak kepolisian menegaskan akan mengambil langkah tegas. “Kami segera berkoordinasi dengan instansi terkait untuk menutup permanen kubangan bekas tambang ini agar tidak jatuh korban lagi di masa mendatang,” pungkasnya.

Hingga sore ini, suasana duka menyelimuti kediaman kedua korban. Garis polisi telah dipasang di lokasi kejadian untuk penyelidikan lebih lanjut terkait perizinan dan tanggung jawab reklamasi lahan galian C tersebut.