PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) berhasil mencatatkan kinerja positif pada kuartal I 2026, dengan perolehan premi sebesar Rp1,16 triliun. Angka ini menunjukkan pertumbuhan sekitar 10% secara tahunan (year-on-year/yoy) per 31 Maret 2026.

Direktur Kepatuhan, SDM dan Manajemen Risiko Askrindo, R. Mahelan Prabantarikso, menegaskan bahwa pertumbuhan yang dicapai bukan hanya dari sisi kecepatan, tetapi juga kualitas. “Kami memastikan bahwa pertumbuhan yang dicapai bukan hanya cepat, tetapi juga berkualitas,” ujar Mahelan dalam taklimat media di Semarang, Jawa Tengah, Kamis (7/5).

Pertumbuhan premi tersebut utamanya didorong oleh peningkatan signifikan pada lini asuransi umum, yang mencatatkan pertumbuhan hingga 44%. Sejalan dengan itu, Askrindo juga melaporkan peningkatan laba perusahaan sebesar 77% (yoy), meskipun nilai laba yang dibukukan belum dirinci.

Kinerja Berkelanjutan dari Tahun Sebelumnya

Perusahaan menyatakan bahwa kinerja positif pada triwulan I 2026 merupakan kelanjutan dari tren performa yang solid sepanjang tahun 2025. Berdasarkan laporan keuangan unaudited tahun 2025, Askrindo mencatatkan premi bruto sebesar Rp4,44 triliun dan hasil underwriting netto sebesar Rp1,28 triliun.

Secara konsolidasi, ekuitas Askrindo meningkat menjadi sekitar Rp9,4 triliun, sementara total aset mencapai sekitar Rp32,9 triliun. Mahelan menjelaskan bahwa pencapaian ini adalah hasil dari fondasi yang kuat. “Kami melihat bahwa kinerja 2025 bukan sekadar pertumbuhan angka, tetapi hasil dari fondasi yang kami bangun secara konsisten, khususnya dalam penguatan tata kelola, manajemen risiko, dan kualitas underwriting. Ini yang menjadi kunci keberlanjutan bisnis kami ke depan,” jelasnya.

Strategi Diversifikasi Portofolio

Dalam upaya menjaga keberlanjutan pertumbuhan, Askrindo menjalankan strategi diversifikasi portofolio melalui tiga pilar utama. Pertama, penguatan bisnis penugasan pemerintah sebagai fondasi utama perusahaan.

Kedua, pengembangan segmen BUMN dan korporasi melalui layanan yang lebih terfokus. Ketiga, ekspansi bisnis ritel, termasuk produk asuransi mikro, parametrik, travel insurance, dan kendaraan bermotor. Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk memperluas jangkauan layanan sekaligus meningkatkan penetrasi pasar di berbagai segmen.

“Fokus kami adalah menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan disiplin risiko,” tutur Mahelan, menekankan pentingnya manajemen risiko dalam setiap langkah ekspansi. (Ant/E-2)