TNI Angkatan Laut (TNI AL) mengklaim telah berhasil memanen kedelai sebanyak dua hingga empat ton di berbagai wilayah, sebuah capaian signifikan dalam mendukung program ketahanan pangan pemerintah. Keberhasilan ini merupakan hasil dari pengolahan lahan tidur yang diinisiasi oleh TNI AL.

Panen Kedelai Melampaui Target di Berbagai Daerah

Kepala Dinas Penerangan TNI AL (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI Tunggul mengungkapkan, hasil panen kedelai menunjukkan potensi besar. “Sebagai gambaran di beberapa lahan TNI AL seperti Lampung yang panen pada Oktober 2025 dengan luas lahan 30 hektare, mampu menghasilkan panen kedelai 4 ton per hektare,” kata Tunggul kepada ANTARA di Jakarta, Sabtu (23/5/2026).

Tunggul menambahkan, keberhasilan serupa juga terlihat di Jawa Timur. “Sedangkan pekan lalu di Nganjuk Jawa Timur dengan luas lahan 400 hektare, estimasi hasil panen 1,5 hingga 2 ton per hektare,” ujarnya.

Menurut Tunggul, aktivitas penanaman kedelai oleh prajurit TNI AL masih terus dilakukan di beberapa daerah. Hasil panen ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus menggerakkan roda perekonomian masyarakat, baik untuk kebutuhan pribadi maupun diperjualbelikan kembali.

Perintah Kementerian Pertahanan dan Tantangan Impor

Keberhasilan panen ini merupakan bagian dari upaya TNI AL dalam menjalankan perintah Kementerian Pertahanan. Sebelumnya, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin telah membagi tugas kepada TNI AD dan TNI AL dalam menggerakkan program ketahanan pangan nasional.

“Kami sudah melakukan pembagian tugas, bahwa untuk Angkatan Darat tugasnya adalah pertanian, jagung, dan padi, selain palawija. Angkatan Laut adalah kedelai,” kata Sjafrie saat menggelar rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi I DPR RI di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (19/5).

Sjafrie menjelaskan, tugas penanaman kedelai diberikan kepada TNI AL karena Indonesia selama ini sangat bergantung pada produk impor. Ia menyebut, Indonesia mengandalkan kedelai impor sebanyak dua ton untuk menutupi kebutuhan nasional.

Lebih lanjut, Sjafrie menyoroti kualitas kedelai impor yang kerap menjadi bahan dasar makanan ternak. “Jadi, bisa dibayangkan, kita impor kedelai itu makanan ternaknya orang di luar. Sekarang, Angkatan Laut dengan dua kali panen, dia sudah mempunyai kualitas bibit kedelai, yang tidak lagi istilah makanan ternak itu,” tegas Sjafrie dalam rapat tersebut.

Dengan demikian, inisiatif TNI AL ini diharapkan tidak hanya mengurangi ketergantungan impor, tetapi juga meningkatkan kualitas kedelai lokal untuk konsumsi manusia.