Cinta di usia senja seringkali dianggap sebagai fase yang tenang, namun realitasnya bisa jauh berbeda. Bagi sebagian lansia, kebutuhan akan perhatian dan kasih sayang justru menjadi celah bagi kejahatan siber yang dikenal sebagai love scamming. Modus penipuan berkedok asmara ini memanfaatkan kerentanan emosional untuk menguras harta korban, meninggalkan luka finansial dan trauma mendalam.

Jebakan Emosional dan Kerugian Finansial

Yuli Zulaikha, Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Dr. Soetomo Surabaya, menyoroti bahwa lansia, meskipun berumur, tetap memiliki kebutuhan akan cinta dan persahabatan. Rasa kesepian atau keinginan mencari teman dapat membuat mereka lebih mudah ‘baper’ atau terbawa perasaan. Sayangnya, perhatian yang didapat dari orang tak dikenal di dunia maya bisa berujung pada petaka.

Salah satu kasus yang mencengangkan terjadi pada September 2025 di Hokkaido, Jepang. Seorang wanita lansia berusia 80 tahun tertipu oleh pria yang mengaku sebagai astronot Rusia. Penipu ini berpura-pura terdampar di luar angkasa dan membutuhkan uang untuk “biaya pulang ke Bumi”, termasuk membeli oksigen dan membayar kapal agar bisa bertemu dan hidup bahagia bersama sang lansia. Namun, janji itu tak pernah terwujud, dan korban baru tersadar setelah mentransfer sejumlah besar uang.

Love scamming adalah kejahatan yang mengeksploitasi emosi paling manusiawi: kebutuhan untuk dicintai dan didengar. Di Indonesia, kasus penipuan ini marak terjadi, khususnya menargetkan kelompok perempuan. Kerugian yang dialami korban tidak main-main, bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah, bahkan lebih. Dana tersebut seringkali didapat dari tabungan pribadi atau hasil meminjam, ditransfer secara bertahap demi membantu ‘kekasih’ palsu mereka.

Modus Pelaku dan Dampak Psikologis

Modus operandi pelaku love scamming umumnya dimulai dengan pendekatan yang sabar dan penuh perhatian. “Awalnya cuma chat,” demikian sering diungkapkan korban saat menceritakan awal mula penipuan. Pelaku akan secara konsisten mengirim pesan setiap pagi, menanyakan kabar, mengingatkan makan obat, bahkan mengucap doa. Bagi lansia yang kesepian, baru kehilangan pasangan, atau jarang mendapat dukungan emosional, rangkaian perhatian ini terasa seperti “hadiah” yang sudah lama hilang.

Namun, di balik layar, ‘cinta’ yang ditawarkan hanyalah strategi belaka. Ujungnya selalu sama: permintaan uang, transfer bertahap, dan kerugian finansial yang signifikan. Selain kerugian materi, dampak psikologis yang ditimbulkan sangat besar, menyebabkan trauma dan rasa malu yang mendalam bagi para korban.

Pentingnya Literasi dan Ruang Aman

Yuli Zulaikha menekankan bahwa love scamming terjadi bukan hanya karena minimnya literasi digital, tetapi juga karena kurangnya literasi keuangan. Untuk mencegah kejahatan ini, diperlukan pendekatan yang manusiawi, bukan menggurui atau menyalahkan korban. Kuncinya adalah membangun kebiasaan verifikasi informasi dan menciptakan pagar finansial yang sederhana.

Sebagai keluarga atau anak, peran penting adalah menyediakan waktu untuk mendengarkan lansia bercerita. Menciptakan ruang aman bagi mereka untuk berbagi pengalaman dan kekhawatiran dapat menjadi benteng pertama. Di dunia digital, perhatian memang bisa dipalsukan, tetapi tabungan dan masa tua yang aman tidak boleh menjadi taruhannya. Literasi praktis yang bisa diterapkan sehari-hari dan dukungan emosional dari orang terdekat adalah kunci untuk melindungi lansia dari jerat love scamming.