Bunga Zainal, di tengah duka mendalam atas kepergian sang ayah, tak kuasa menahan tangis saat mengenang sosok panutannya. Kepergian sang ayah ini terjadi di tengah sorotan publik terhadap konflik internal keluarga aktris tersebut.
Bunga mengungkapkan bahwa salah satu keinginan terbesar sang ayah sebelum mengembuskan napas terakhir adalah melihat seluruh anak-anaknya berkumpul kembali. Kondisi perpecahan keluarga yang belum usai ini menjadi penyesalan tersendiri bagi Bunga.
“Bapak saya tuh luar biasa banget ya, maksudnya keinginan hidupnya dan sembuhnya tuh tinggi banget, apalagi pengen lihat anak-anaknya kumpul tuh keinginannya tuh tinggi banget,” cerita Bunga Zainal di TPU Tanah Kusir, Rabu (6/5/2026), usai prosesi pemakaman.
Sosok Ayah yang Disiplin dan Penuh Kasih
Bagi Bunga, mendiang ayahnya bukan sekadar orang tua, melainkan juga cinta pertama dan guru yang menanamkan nilai-nilai disiplin yang mendalam. Sejak kecil, ia dan saudara-saudaranya merasakan langsung sentuhan pengasuhan sang ayah dalam setiap detail keseharian.
“Kita tuh makan bener-bener dia yang masakin. Papa tuh orangnya bersih ya, jadi kayak bersih-bersih rumah gitu Papa yang ngajarin,” kenang istri Sukhdev Singh tersebut.
Sebagai pria berdarah Betawi, mendiang memiliki rutinitas unik setiap pagi, yakni meracik sambal rujak spesial untuk anak-anaknya. Kebiasaan berkumpul sambil menyantap rujak inilah yang akhirnya melekat kuat dan menjadi tradisi tak terlupakan bagi Bunga hingga kini.
“Papa tuh hands-on banget sama anak-anaknya. Jadi dari kecil ya emang masak itu Papa gitu. Kayak urusan kita juga Papa. Jadi ya momennya banyak lah,” jelas Bunga. Ia menambahkan, “Kalau pagi-pagi tuh rutinitas, Papa kan pinter bikin sambel rujak orang Betawi kan. Jadi kayak anak-anaknya dikumpulin gitu. Jadi aku kalau ditanya kebiasaan makan rujak tuh pagi-pagi ya dari Papa gitu.”
Kenangan saat berkumpul sambil menikmati sambal rujak racikan sang ayah kini menjadi memori indah yang akan selalu dirindukan. Bunga pun berkomitmen untuk meneruskan nilai-nilai disiplin yang diajarkan sang ayah kepada generasi penerusnya, sebagai bentuk penghormatan terakhir.
