MADIUN – Dalam rangka memperingati Hari Bumi, Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal (FT) Madiun bersama kelompok Program Kampung Iklim (ProKlim) Pesanggrahan melakukan aksi nyata pelestarian lingkungan. Sebanyak 350 liter cairan eco-enzyme dituang ke aliran Sungai Bengawan Solo pada Kamis, 23 April 2026, untuk memperbaiki kualitas air dan menekan tingkat pencemaran.

Cairan eco-enzyme, yang merupakan hasil fermentasi limbah organik rumah tangga, dipilih sebagai solusi alami dan praktis untuk menjaga ekosistem sungai. Inisiatif ini diharapkan dapat memicu kesadaran masyarakat akan potensi limbah dapur.

Sinergi Korporasi dan Komunitas Lokal

Manager Fuel Terminal Madiun, Kadek Dwi Arianto, menegaskan bahwa peringatan Hari Bumi harus menjadi pemantik aksi nyata yang berkelanjutan. Ia menekankan pentingnya sinergi antara korporasi dan komunitas lokal seperti ProKlim Pesanggrahan dalam membangun budaya sadar lingkungan.

“Menjaga alam adalah tanggung jawab kolektif. Kami ingin memicu langkah sederhana yang dampaknya bisa dirasakan langsung oleh ekosistem di sekitar kita,” ujar Kadek.

Senada dengan Kadek, Area Manager Comm, Rel. & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menyatakan bahwa keberlanjutan lingkungan tidak mungkin terwujud jika hanya mengandalkan satu pihak. Menurutnya, kolaborasi lintas sektor, mulai dari perusahaan, akademisi, hingga warga, menjadi fondasi kuat untuk mewariskan bumi yang lebih sehat bagi generasi mendatang.

Melibatkan Lintas Generasi

Aksi penuangan eco-enzyme ini melibatkan setidaknya 150 partisipan dari berbagai kalangan. Mereka terdiri dari penggerak PKK Kota Madiun, mahasiswa Universitas Negeri Surabaya, hingga pelajar SMK. Keterlibatan lintas generasi ini menunjukkan bahwa pesan pelestarian alam telah merambah kaum muda.

Wakil Ketua TP PKK Kota Madiun, Dellina Mahardika Panuntun, yang turut hadir di lokasi, mengapresiasi gerakan kolaboratif ini. Ia menilai kesadaran kolektif merupakan modal utama dalam merawat bumi.

“Terlihat jelas bahwa ibu-ibu PKK hingga adik-adik pelajar punya semangat serupa. Langkah kecil yang dikerjakan bersama-sama bakal menghasilkan perubahan besar,” kata Dellina.

Sementara itu, Local Hero ProKlim Pesanggrahan, Kurnia Fidiawati, menjelaskan alasan di balik pemilihan eco-enzyme. Menurutnya, cairan ini membuktikan bahwa limbah dapur yang seringkali berakhir di tempat sampah, sebenarnya memiliki nilai manfaat tinggi jika dikelola dengan benar.

Manfaat edukatif dari kegiatan ini juga dirasakan langsung oleh Rizky Pratama, siswa Kimia Industri SMKN 3 Madiun. Ia mengaku mendapatkan perspektif baru bahwa teori yang dipelajari di kelas dapat diaplikasikan secara langsung untuk membantu lingkungan.

Melalui penuangan ratusan liter cairan organik ini, Pertamina dan warga Madiun berharap kualitas air Sungai Bengawan Solo dapat membaik secara bertahap. Lebih dari sekadar seremoni, gerakan ini menjadi pengingat bahwa masa depan lingkungan sangat ditentukan oleh konsistensi manusia dalam mengelola limbahnya, dimulai dari rumah tangga.