Pengelola masa transisi Kebun Binatang Bandung atau Bandung Zoo memastikan kebutuhan pakan dan gizi bagi 694 satwa yang ada di sana tetap tercukupi. Seluruh satwa dilaporkan dalam kondisi sehat, di tengah proses seleksi operator baru yang sedang berlangsung.
Saat ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menanggung seluruh biaya operasional, termasuk pakan, gizi, dan gaji karyawan. Dukungan ini akan terus diberikan hingga pengelola definitif baru terpilih. Beberapa kandidat pengelola yang berminat antara lain Taman Safari Indonesia (TSI), Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Gembira Loka Zoo Yogyakarta, Faunaland, serta beberapa perusahaan lainnya.
Penguatan Perawatan dan Biosecurity Pascakematian Harimau
Koordinator Pengelola Transisi Kebun Binatang Bandung, Rohman Suryaman, pada Kamis (28/5) menyatakan, pascakematian dua ekor harimau beberapa waktu lalu, pihaknya telah melakukan berbagai penguatan dalam perawatan satwa. Fokus utama adalah pada aspek kesehatan dan biosecurity.
“Kalau untuk pakan sebetulnya dari awal juga tetap memberikan yang terbaik untuk satwa. Cuma mungkin lebih ke beberapa treatment terkait kesehatan, salah satunya biosecurity,” ungkap Rohman.
Rohman menjelaskan, setiap petugas yang memasuki area kandang wajib melalui proses disinfeksi. Selain itu, pengelola rutin melakukan penyemprotan kandang, pengurasan kolam, serta pembersihan menggunakan cairan disinfektan. Langkah-langkah ini bertujuan untuk mencegah penyebaran penyakit dan menjaga kebersihan lingkungan satwa.
Pengendalian Hama dan Pasokan Pakan Terjamin
Tak hanya itu, Bandung Zoo juga bekerja sama dengan Rumah Sakit Hewan Cikole dan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung untuk pengendalian tikus dan kucing liar. Program ini mencakup penangkapan tikus dan kucing yang kemudian dilakukan sterilisasi.
Kebutuhan pakan satwa mencapai ratusan kilogram per hari, meliputi buah-buahan, sayuran, rumput, hingga pakan konsentrat. “Kalau total biaya pakan sekitar Rp15 juta per hari untuk semua jenis hewan,” terang Rohman.
Seluruh bahan pakan diperoleh dari sekitar 15 pemasok berbeda. Pisang didatangkan dari Cianjur Selatan, rumput dari Purwakarta, dan ubi dari Tanjungsari. Sementara sayuran seperti kangkung dan jenis lainnya didapatkan dari pasar melalui vendor pakan. Rohman memastikan, setiap pakan yang diberikan kepada satwa melalui proses pembersihan dan biosecurity guna menghindari risiko keracunan, kecuali daging.
Kesejahteraan Satwa dan Kesiapan Karyawan
Saat ini, jumlah satwa di Bandung Zoo tercatat sebanyak 694 ekor berdasarkan berita acara pendataan terakhir. Meski dalam masa transisi, Rohman menegaskan bahwa kebutuhan nutrisi seluruh satwa tetap terpenuhi.
Selain pemberian pakan utama, pengelola juga melakukan enrichment atau pengayaan aktivitas satwa. Ini dilakukan melalui pakan, habitat, maupun pembentukan insting alami satwa. “Itu untuk menambah aktivitas satwa karena lokasinya terbatas,” ucapnya.
Terkait pengelola definitif Bandung Zoo ke depan, Rohman mengaku para karyawan belum mengetahui secara pasti siapa yang akan mengambil alih. “Kami karyawan fokus bekerja saja. Siapapun nanti yang menjadi pengelola, kami siap bekerja sama dengan baik,” imbuhnya.
