Senior Analyst NEXT Indonesia Center, Sandy Pramuji, menyatakan pemerintah perlu memastikan pertumbuhan pendapatan riil yang lebih merata dan penciptaan lapangan kerja berkualitas. Langkah ini krusial untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi nasional di tengah berbagai tantangan.

Menurut Sandy, tantangan utama dalam meningkatkan daya beli masyarakat Indonesia saat ini bukan lagi ketiadaan konsumsi, melainkan pendapatan yang tidak merata dan sulitnya mencari lapangan pekerjaan. “Tanpa penguatan (kedua) fondasi tersebut, masyarakat akan semakin berhati-hati dalam berbelanja, yang berpotensi membatasi keberlanjutan pertumbuhan ekonomi ke depannya,” ujar Sandy Pramuji di Jakarta, Minggu (8/2/2026).

Ia menjelaskan, meskipun daya beli masyarakat masih tumbuh dan terjaga, keinginan untuk berbelanja justru semakin tertahan. Hal ini dipicu oleh meningkatnya tekanan biaya hidup, ketidakpastian ekonomi, serta kehati-hatian pascapandemi. Masyarakat menahan konsumsi bukan karena tidak memiliki uang, melainkan memprioritaskan keamanan finansial untuk mengantisipasi kondisi perekonomian di masa mendatang.

Kondisi tersebut tercermin pada pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang tetap stabil dan konsisten di kisaran 4,53 persen hingga 5,22 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada 2023-2024. Angka ini bertahan pada level 4,98 persen pada 2025, mengindikasikan bahwa ekonomi domestik belum melemah dan permintaan domestik masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi.

Upah Riil Tertekan dan Penurunan Gairah Ekonomi

Namun, Sandy menyoroti bahwa upah riil pekerja mulai tertekan pada paruh kedua tahun lalu. Data pada Agustus 2025 menunjukkan kenaikan upah hanya sebesar 1,94 persen yoy, lebih rendah dibandingkan laju inflasi yang mencapai 2,31 persen yoy. “Kondisi ini menyebabkan upah riil terkontraksi sekitar 0,37 persen, sebuah sinyal tertekannya daya beli, karena pendapatan tidak lagi mampu mengimbangi kenaikan harga,” tutur Sandy.

Penurunan gairah ekonomi juga terlihat dari Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI). Indeks ini menurun dari 120,2 pada Juni 2025 menjadi 112,9 pada September 2025, sebelum pulih terbatas di akhir tahun kembali ke level 120,2 pada Desember 2025. Hal ini mengindikasikan bahwa penghasilan yang dirasakan rumah tangga mulai tergerus oleh kenaikan biaya hidup.

Serapan Tenaga Kerja Melambat dan Tabungan Tersegmentasi

Dari aspek ketenagakerjaan, serapan tenaga kerja pada Agustus 2025 hanya bertambah 1,89 juta orang. Angka ini jauh lebih rendah dibanding peningkatan pada Agustus 2024 yang mencapai 4,79 juta orang, menunjukkan perlambatan signifikan dalam penciptaan lapangan kerja.

Sandy juga menyoroti kondisi keuangan rumah tangga yang semakin tersegmentasi dan tidak merata, terutama terkait tabungan. Tabungan masyarakat secara total memang tumbuh hingga 12,1 persen yoy pada November 2025. Namun, kenaikan tersebut didominasi oleh kelompok simpanan besar dengan saldo di atas Rp1 miliar.

Sebaliknya, kapasitas menabung kelompok menengah dan bawah justru mengalami stagnasi. Rata-rata tabungan per rekening untuk kelompok simpanan di bawah Rp100 juta cenderung menurun, dari sekitar Rp2 juta pada awal 2023 menjadi sekitar Rp1,7 juta pada 2024-2025.

“Fenomena precautionary saving ini mempertegas bahwa ruang finansial rumah tangga tidak membaik secara merata. Kelompok berpendapatan tinggi lebih memilih menabung dan berinvestasi, sementara kelompok menengah-bawah berjuang menjaga sisa bantalan keuangan mereka yang mulai tergerus inflasi,” imbuh Sandy.