Zat plastik berukuran mikroskopis kini tak lagi sekadar mengapung di lautan, melainkan telah mendarat di atas meja makan dan menempel di wajah manusia. Sebuah riset kolaborasi antara mahasiswa UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya dan lembaga lingkungan ECOTON mengungkap fakta mengejutkan mengenai sebaran pencemaran mikroplastik yang telah mengontaminasi padi, hewan air, hingga produk kosmetik bibir.
Dalam seminar bertajuk “Pencemaran Mikroplastik” yang digelar di Kampus UINSA Gunung Anyar pada Kamis, 12 Maret 2026, hasil penelitian terbaru dibedah. Terungkap bahwa empat dari lima produk kosmetik bibir yang diuji positif mengandung mikroplastik. Satu sampel bahkan menyimpan hingga 112 partikel plastik, menimbulkan kekhawatiran serius mengingat produk pemulas bibir bersifat leave-on atau menempel lama di kulit.
“Mikroplastik ini muncul bukan cuma dari bahan dasar kosmetiknya, tapi juga dari kemasan. Produk yang bergliter atau tahan air (waterproof) sebenarnya mengandung polimer plastik yang sengaja ditambahkan agar awet di kulit,” jelas Kallista Maharani, peneliti mikroplastik kosmetik, dalam paparannya.
Sekretaris Program Studi Biologi UINSA, Atiqoh Zummah, menambahkan bahwa penggunaan bahan seperti polietilen pada kosmetik bertujuan agar produk sulit terserap kulit, sehingga produsen dapat mengklaim produknya tahan lama. Namun, keberadaan polimer ini justru membawa risiko kesehatan bagi pemakainya.
Ancaman mikroplastik tidak berhenti di meja rias. Di sektor pangan, partikel plastik berbentuk serat (fiber) ditemukan menempel pada permukaan daun padi. Serat yang diduga berasal dari limbah tekstil di udara ini berisiko menghambat proses fotosintesis dan berpotensi menurunkan produktivitas panen nasional.
Pendiri ECOTON, Prigi Arisandi, menilai hasil riset ini sebagai peringatan keras bagi masyarakat. Menurutnya, “mahasiswa biologi memiliki kemampuan unik untuk “menerjemahkan” keluhan alam, mulai dari capung, kodok, hingga tanaman, yang kini semuanya telah tercemar sampah plastik.”
Jalur perpindahan plastik ini bahkan merambah hingga ke gua-gua di Lamongan. Peneliti menemukan bahwa 100 persen sampel kotoran (guano) kelelawar telah terkontaminasi mikroplastik. Kelelawar yang memangsa serangga terpapar plastik menjadi jembatan perpindahan polutan dalam rantai makanan. Lebih lanjut, kotoran kelelawar yang sering diolah menjadi pupuk organik berpotensi mengembalikan plastik tersebut ke lahan pertanian dan akhirnya masuk ke tubuh manusia melalui hasil panen.
Selain pada padi dan kelelawar, katak di lahan pertanian juga diketahui mengandung rata-rata 9,25 partikel mikroplastik per gram. Angka ini menempatkan amfibi sebagai indikator buruknya kualitas ekosistem perairan tawar saat ini.
Guna memutus rantai polusi ini, para peneliti mendesak masyarakat untuk segera meninggalkan gaya hidup sekali pakai. Langkah nyata seperti beralih ke wadah guna ulang dan berhenti membakar sampah plastik menjadi cara paling efektif untuk melindungi diri dari kepungan mikroplastik yang kian masif.
