Perempuan asal Malang, Rinda Puspasari, meluncurkan dua buku sekaligus pada Senin malam (9/2/2026). Peluncuran ini bukan sekadar menambah daftar karya, melainkan upaya nyata Rinda untuk mengedukasi masyarakat dan menguatkan budaya literasi di Indonesia, tanpa mengejar aspek komersial.

Salah satu karyanya, Di Bawah Langit yang Bukan Milikku, merupakan memoar personal yang mengajak pembaca menyelami perjalanan hidup, pencarian jati diri, hingga refleksi batin sang penulis. Buku ini secara jujur mengungkap pengalaman pahit dan manis Rinda, termasuk pengakuan mengejutkan bahwa dirinya bukan anak kandung dari orang tua yang membesarkannya.

“Saya baru tahu setelah 46 tahun, bahwa saya punya leluhur jenderal polisi seperti itu. Saya baru tahu kalau saya bukan anak kandung itu setelah usia 23 tahun dan saya rahasiakan sampai umur 46. Jadi semua yang ada di situ saya nggak berani kalau itu fiktif, itu malah membuat celaka saya,” tegas Rinda.

Sementara itu, buku kedua berjudul Koi dari Kolam Kaisar ke Nusantara: Jejak Waktu dan Rahasia Gigi yang Berbisik, menghadirkan kisah ikan koi dengan pendekatan yang ringan dan mudah dipahami. Berangkat dari pengalamannya meneliti koi saat menempuh pendidikan serta kiprahnya di dunia pendidikan, Rinda menjadikan koi sebagai subjek utama dalam bukunya.

Rinda menjelaskan, penulisan buku tentang koi tersebut berangkat dari riset sejarah, geologi, budaya, hingga ekonomi yang kemudian dirangkai menjadi satu kesatuan. Proses riset ini dilakukan selama kurang lebih satu tahun, melibatkan kunjungan ke berbagai komunitas koi, perbandingan jurnal ilmiah, hingga wawancara dengan pelaku usaha koi di Garum, Kabupaten Blitar.

“Koi kaisar itu dengan latar berbeda, berangkat dari riset sejarah, geologi, budaya dan ekonomi. Namun itu saya jadikan satu. Di sini koi saya jadikan subjek, bukan objek yang bisa menjadikan peradaban, yang mengingatkan kita bahwa manusia bisa belajar tentang dirinya sendiri melalui produk lain,” ujarnya.

Bagi Rinda, menulis adalah bagian dari kepribadian sekaligus hobinya. Di sela waktu istirahat, ia memilih menuangkan ide dan gagasannya dalam bentuk tulisan hingga akhirnya dibukukan. Ia percaya bahwa buku memiliki peran penting dalam membangun peradaban.

“Hari ini suatu hal tentang keberanian untuk menulis yang sering kita lupakan. Saya percaya buku tidak cukup ditentukan tapi ditemukan, memberi kesempatan agar gagasan di buku ini bisa sampai ke pembaca,” kata Rinda saat peluncuran buku.

Rinda berharap, kedua bukunya mampu mendorong budaya literasi di Indonesia yang masih tergolong rendah. Ia secara tegas menyatakan tidak terlalu memikirkan aspek komersial dari karya-karyanya.

“Saya nggak mau buku saya dalam bentuk elektrik, saya mau mendidik warga. Saya ingin orang Indonesia membuka buku, bukan HP. Saya tidak pernah memikirkan buku itu akan laku, berapapun yang saya dapatkan itu saya terima,” tuturnya.

Menurut Rinda, dampak literasi tidak selalu bisa dirasakan secara instan. “Mungkin efeknya bukan sekarang. Mungkin lima, sepuluh, atau dua puluh tahun lagi buku saya menjadi referensi. Kalau kita tidak melakukan apa-apa, tentu perubahan tidak akan terjadi dan bangsa Indonesia tidak akan pernah berubah,” pungkasnya.