Ribuan warga memadati Alun-alun Desa Balun, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan, pada Rabu (18/3/2026). Mereka antusias menyaksikan pawai ogoh-ogoh yang digelar umat Hindu setempat sebagai bagian dari rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi. Tradisi tahunan ini menjadi cerminan kerukunan di desa tersebut, di mana umat Hindu hidup sebagai kelompok minoritas.
Pawai ogoh-ogoh merupakan puncak dari ritual Tawur Agung Kesanga, yang dilaksanakan sehari menjelang Hari Raya Nyepi. Tahun ini, Nyepi jatuh pada Kamis (19/3/2026) hingga Jumat (20/3/2026).
Mangku Tadi, Pemangku Pura Sweta Maha Suci Desa Balun, menjelaskan bahwa delapan ogoh-ogoh diarak mengelilingi desa. Setelah itu, patung-patung tersebut dibakar di alun-alun saat matahari terbenam.
“Ada delapan ogoh-ogoh yang diarak keliling desa, kemudian dibakar sebagai bagian dari rangkaian ritual Tawur Agung,” ujar Mangku Tadi.
Menurut Mangku Tadi, ogoh-ogoh melambangkan sifat-sifat negatif atau hawa nafsu manusia yang perlu dinetralisir. Prosesi pembakaran ini memiliki makna mendalam menjelang Nyepi.
“Ogoh-ogoh melambangkan sifat-sifat buruk manusia. Melalui prosesi ini, diharapkan sifat tersebut dapat dihilangkan agar setelah Nyepi, umat dapat berpikir, berkata, dan bertindak lebih baik,” jelasnya.
Wujud Nyata Toleransi di Tengah Perbedaan
Mangku Tadi juga menyoroti momen istimewa tahun ini, di mana perayaan Nyepi berdekatan dengan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah. Ia menegaskan bahwa perbedaan tersebut justru memperkuat tali toleransi yang telah lama terjalin di Desa Balun.
Ia bahkan mempersilakan umat Muslim untuk tetap menjalankan ibadah, termasuk takbiran, tanpa perlu merasa terganggu. Hal ini menunjukkan komitmen kuat terhadap saling menghormati antarumat beragama.
“Silakan saudara-saudara Muslim menjalankan ibadah sesuai keyakinannya. Tidak ada masalah, yang terpenting kita saling menghormati,” kata Mangku Tadi.
Mangku Tadi berharap, nilai-nilai toleransi yang terpelihara di Desa Balun dapat menjadi teladan bagi masyarakat luas. Keharmonisan ini diharapkan bisa menginspirasi banyak pihak.
“Semoga keharmonisan di desa ini bisa menjadi inspirasi, tidak hanya di Lamongan tetapi juga di tempat lain,” pungkasnya.
