Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) secara resmi meluncurkan Rencana Strategis (Renstra) 2026–2030, menandai arah baru pengembangan kampus yang berfokus pada inovasi dan kewirausahaan. Dokumen ini menjadi landasan utama bagi ITS untuk mempercepat transformasi, memastikan hasil riset memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan industri.
Rektor ITS, Bambang Pramujati, menegaskan bahwa orientasi kampus tidak lagi sekadar mengejar capaian akademik. “Riset harus terhubung dengan industri. Dari situ, solusi lahir dan nilai ekonomi bisa tercipta,” ujarnya, menekankan pentingnya hilirisasi riset.
Kerangka RAISE sebagai Fondasi Pengembangan
Renstra ITS disusun sebagai respons terhadap berbagai tantangan global, mulai dari disrupsi teknologi hingga krisis energi dan perubahan iklim. ITS mengusung kerangka besar bertajuk RAISE sebagai fondasi pengembangan, yang terdiri dari lima komponen utama:
- Relevant and Impactful Research: Menempatkan riset aplikatif sebagai ujung tombak solusi bagi permasalahan nyata.
- Academic Excellence and Global Reputation: Mendorong kualitas lulusan agar mampu bersaing di level internasional.
- Innovation and Entrepreneurship: Membangun ekosistem kewirausahaan yang berbasis pada hilirisasi hasil riset.
- Sustainable Development: Memastikan tata kelola dan infrastruktur kampus tetap adaptif dan berkelanjutan.
- Excellence Governance: Menitikberatkan penguatan manajemen institusi, termasuk pengelolaan keuangan dan sumber daya manusia.
Target Global Impact University 2030
Capaian periode sebelumnya, di mana lebih dari 70 persen indikator kinerja berhasil dicapai atau melampaui target, menjadi modal penting bagi ITS. Meskipun demikian, percepatan tetap diperlukan, terutama dalam memperluas pengalaman global mahasiswa dan memperkuat ekosistem inovasi.
ITS menargetkan status Global Impact University pada tahun 2030, sebuah kampus yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan berkelanjutan. Untuk mencapai target ambisius ini, ITS mengusung tiga pilar utama: menjadi kampus yang tangguh menghadapi perubahan, berdampak bagi masyarakat, dan aktif di panggung global.
Di sisi akademik, kurikulum akan terus diselaraskan dengan kebutuhan industri dan perkembangan teknologi terkini. Sementara itu, pada bidang riset, fokus utama diarahkan pada hilirisasi dan komersialisasi, memastikan hasil penelitian tidak hanya berhenti sebagai publikasi semata.
Wakil Rektor II ITS, Machsus, menambahkan bahwa penguatan tata kelola dan kemandirian finansial menjadi kunci keberlanjutan. “Kampus tidak bisa hanya bergantung pada anggaran negara,” ujarnya, menekankan pentingnya diversifikasi pendanaan, termasuk melalui kemitraan industri.
Melalui strategi komprehensif ini, ITS membidik peran yang lebih besar sebagai penggerak inovasi teknologi dan pembangunan berbasis pengetahuan, guna mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045.
