GESIT News – Jakarta — Utusan Nahdlatul Wathan ikut menghadiri Undangan Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar dalam Acara Silaturrahmi dan Buka Bersama Pimpinan Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) pada Sabtu, 14 Maret 2026 di Rumah Dinas Menteri Agama RI. Kegiatan tersebut dihadiri oleh para pimpinan dan perwakilan organisasi kemasyarakatan Islam dari berbagai daerah di Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, hadir pula ulama dan mufassir terkemuka Indonesia, Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, yang menyampaikan ceramah dengan tema Kajian Ekologi dalam Perspektif Al-Qur’an.

Dalam pemaparannya, Prof. Quraish Shihab mengajak para pimpinan ormas Islam untuk merenungkan hubungan manusia dengan alam semesta sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur’an. Ia menjelaskan bahwa hubungan manusia dengan alam dapat dilihat dalam empat dimensi utama, yaitu langit, bumi, ruang antara langit dan bumi, serta apa yang berada di bawah tanah.

Menurut beliau, manusia memiliki hubungan yang sangat erat dengan bumi. Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa manusia diciptakan dari tanah, akan kembali ke tanah, dan kelak dibangkitkan kembali dari tanah. Karena itu, bumi dapat dipahami sebagai “ibu” bagi manusia yang telah memberikan kehidupan dan tempat tinggal bagi seluruh makhluk.

“Jika bumi adalah ibu bagi manusia, maka kita wajib memenuhi hak-haknya. Tidak cukup hanya menjaganya, tetapi juga harus memakmurkannya, bukan sekadar mengeksploitasi,” ungkapnya.

Prof. Quraish Shihab juga mengingatkan bahwa dalam perspektif Al-Qur’an, seluruh ciptaan Allah pada hakikatnya memiliki kehidupan dalam bentuk yang mungkin tidak sepenuhnya dipahami manusia. Karena itu, manusia tidak boleh memandang alam sebagai sesuatu yang mati dan tidak bernilai.

Ia memberikan perumpamaan reflektif bahwa manusia tidak seharusnya menganggap langit tidak bisa “menangis”, bumi tidak “menyusui” manusia dengan berbagai karunianya, atau air tidak “bergetar” ketika manusia memanjatkan doa. Semua unsur alam, menurutnya, memiliki hubungan spiritual dengan Sang Pencipta.

Lebih jauh, beliau mengajak umat Islam untuk belajar dari alam, termasuk dari makhluk-makhluk kecil seperti semut, lalat, dan lebah, yang masing-masing memiliki peran dan keteraturan dalam ekosistem kehidupan.

Dalam ceramahnya, Prof. Quraish Shihab juga mengajak hadirin merenungkan kandungan ayat 5–9 dari Al-Qur’an, khususnya dalam Surah Surah Ar-Rahman. Ia menjelaskan bahwa ayat-ayat tersebut menggambarkan keseimbangan kosmik yang telah Allah tetapkan di alam semesta.

Ia mencontohkan bagaimana matahari dan bulan beredar sesuai ketentuan Allah tanpa pernah menyimpang, serta bagaimana rumput dan pepohonan dapat tumbuh berdampingan tanpa saling mengganggu. Demikian pula Allah mengangkat langit dengan keseimbangan yang sempurna sehingga tidak menjatuhi bumi.

Dari gambaran tersebut, manusia diingatkan agar tidak merusak keseimbangan yang telah Allah tetapkan di alam. Sebaliknya, manusia justru diperintahkan untuk menegakkannya dengan prinsip “qisṭ”, yaitu keseimbangan yang saling menguntungkan bagi semua pihak.

Menurut beliau, konsep qisṭ lebih luas daripada sekadar keadilan. Jika keadilan terkadang masih dapat melukai salah satu pihak, maka qisṭ menuntut terciptanya keseimbangan yang membawa kebaikan bagi semua.

Prof. Quraish Shihab juga menegaskan bahwa Al-Qur’an memuat ribuan ayat yang berkaitan dengan ekologi dan alam semesta, bahkan jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan ayat-ayat yang secara langsung membahas ibadah ritual.

“Jika kita benar-benar belajar dari ribuan ayat ekologi dalam Al-Qur’an, tidak mungkin manusia akan dengan mudah merusak alam. Apalagi jika dibandingkan dengan ayat-ayat ibadah yang jumlahnya jauh lebih sedikit,” ujarnya.

Ceramah tersebut disambut dengan penuh perhatian oleh para pimpinan ormas Islam yang hadir. Kajian ini menjadi pengingat penting bahwa menjaga keseimbangan alam merupakan bagian dari tanggung jawab spiritual umat manusia sebagai khalifah di bumi.

Bagi Nahdlatul Wathan, pesan-pesan ekologis yang disampaikan dalam ceramah tersebut menjadi penguatan nilai bahwa memakmurkan bumi dan menjaga keseimbangan alam merupakan bagian dari pengabdian kepada Allah SWT serta tanggung jawab moral umat manusia.

Acara silaturrahmi tersebut ditutup dengan doa bersama dan buka puasa yang berlangsung dalam suasana penuh kehangatan, mempererat ukhuwah antara pemerintah dan organisasi kemasyarakatan Islam dalam membangun bangsa yang damai dan berkelanjutan.