Warga di pelosok Aceh Tamiang berangsur menata kembali kehidupan mereka setelah diterjang banjir hebat. Proses pemulihan ini tidak hanya berfokus pada perbaikan fisik rumah, tetapi juga memastikan ketersediaan akses air bersih serta mengembalikan keceriaan anak-anak yang sempat terenggut trauma.
Lembaga kemanusiaan Teman Baik hadir di tengah masyarakat untuk mengawal transisi sulit ini. Sejak Februari hingga memasuki Ramadan 2025, serangkaian program pemulihan digulirkan secara bertahap di desa-desa terdampak, seperti Desa Sungai Liput, Benua Raja, hingga wilayah terpencil di Kecamatan Sekrak.
Dukungan Psikososial untuk Anak-anak
Salah satu dampak bencana yang sering luput dari perhatian adalah luka psikis. Menyadari hal tersebut, Teman Baik menggandeng Komunitas Ruang Baca untuk menggelar layanan dukungan psikososial pada 10-11 Februari lalu. Relawan mengajak anak-anak di Desa Sungai Liput dan Benua Raja kembali bermain, mewarnai, hingga mendengarkan dongeng inspiratif.
Ruang interaksi ini menjadi “katarsis” bagi mereka untuk melepaskan beban emosi setelah melihat rumah mereka terendam air bah.
“Kerusakan fisik memang kasatmata, tapi ada dampak lain yang luput dari pandangan, yakni kondisi mental masyarakat. Kami ingin hadir di titik itu, mulai dari mendampingi psikis anak-anak hingga memastikan kebutuhan paling mendasar seperti air bersih tersedia,” ujar Muhammad Pungky, Manager Program Teman Baik.
Akses Air Bersih Melalui Sumur Bor
Akses terhadap air bersih sempat lumpuh total setelah sumber air warga tercemar lumpur banjir. Menjawab krisis ini, Teman Baik membangun dua titik sumur bor di lokasi strategis agar warga bisa kembali memasak dan beribadah dengan layak.
Kini, manfaat fasilitas tersebut semakin terasa saat memasuki bulan suci Ramadan. Kehadiran air bersih memudahkan warga menjalankan ritual ibadah tanpa harus kesulitan mencari sumber air yang jauh.
Kebersamaan di Bulan Suci
Memasuki pekan awal Maret, suasana haru sekaligus hangat terasa di Desa Baling Karang. Para relawan tidak hanya datang membawa bantuan logistik, tetapi juga menetap untuk sahur dan buka puasa bersama warga.
“Harapan kami sederhana, warga bisa merasa tidak sendirian. Semangat kebersamaan ini yang akan menjadi bahan bakar mereka untuk bangkit. Dukungan donatur dan relawan adalah kunci bagi mereka menata hidup kembali,” tambah Pungky.
Selain pendampingan fisik dan psikis, Teman Baik juga mendistribusikan mushaf Alquran dan buku Iqra di kawasan Kota Lintang. Bantuan ini menjadi sangat krusial karena mayoritas kitab suci milik warga hanyut atau hancur terendam lumpur saat bencana melanda.
Kini, di balik sisa garis air di dinding rumah, warga Aceh Tamiang mulai memupuk kembali harapan mereka, satu langkah kecil di tiap harinya.
