Surabaya – Prof. Dr. Mundakir, S.Kep, Ns, M.Kep resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) pada Kamis (30/4/2026). Dalam orasi ilmiahnya di At-Tauhid Tower, Mundakir menyoroti paradigma dunia medis Indonesia yang dinilai mereduksi pasien hanya sebagai objek biologis, mengabaikan pentingnya kesehatan mental remaja dan dukungan psikososial dalam proses penyembuhan.

Menurut Mundakir, kemajuan teknologi medis saat ini belum berbanding lurus dengan kesejahteraan mental pasien. Ia membeberkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2025 yang menunjukkan satu dari enam anak muda di dunia menderita kesepian kronis. Di Indonesia, angka ini bahkan lebih mengkhawatirkan, di mana sekitar 61 persen remaja yang mengalami depresi memiliki pikiran untuk mengakhiri hidup, namun hanya sedikit yang berani mencari bantuan profesional.

Sistem Kesehatan Gagal Jangkau Pasien Rentan

“Pasien menderita bukan cuma karena penyakitnya, tapi karena rasa tidak pasti dan minimnya dukungan selama perawatan,” ujar Mundakir, menegaskan bahwa sistem kesehatan saat ini gagal menjangkau mereka yang paling rentan.

Dilema ini diperparah dengan kondisi tenaga kesehatan yang mengalami kelelahan. Mundakir mengungkapkan bahwa angka burnout perawat di Indonesia mencapai 37,5 persen, tiga kali lipat dari rata-rata global. Ia mengkritik sistem informasi rumah sakit yang justru memaksa perawat lebih banyak menatap layar komputer untuk input data ketimbang berinteraksi langsung dengan pasien.

Inovasi KT-PSIKO dan Pendekatan Holistik

Untuk menjembatani kesenjangan tersebut, Prof. Mundakir memperkenalkan kerangka kerja orisinal bernama KT-PSIKO (Knowledge Translation Psikososial). Inovasi ini dirancang untuk memangkas waktu tunggu riset medis yang biasanya membutuhkan belasan tahun agar dapat diterapkan langsung di bangsal perawatan.

Solusi yang ditawarkan Mundakir bertumpu pada tiga pilar utama: budaya lokal, kekuatan keluarga, dan spiritualitas. Ia menjelaskan bahwa di Indonesia, kesembuhan bukan hanya urusan personal semata.

“Keluarga adalah sistem pendukung utama. Sakit juga sering dimaknai sebagai perjalanan spiritual. Ketenangan batin lewat doa atau zikir itulah yang memberikan harapan bagi pasien,” urainya.

Sebagai langkah konkret, Guru Besar Umsura ini mendesak adanya perombakan kurikulum keperawatan dan penetapan standar prosedur operasional (SOP) psikososial di seluruh rumah sakit. Ia berharap aspek humanistik tidak lagi menjadi pelengkap, melainkan indikator utama mutu pelayanan kesehatan di masa depan.