Rektor Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, Prof. Hepni, mengajak seluruh umat Islam untuk menjadikan momentum Idulfitri 1447 Hijriah sebagai sarana refleksi spiritual. Ia menekankan pentingnya menata kembali kehidupan dan meningkatkan kepatuhan kepada Allah SWT setelah sebulan penuh menjalani ibadah Ramadan.

Idulfitri: Kembali pada Kepatuhan

Prof. Hepni menegaskan bahwa Idulfitri bukan sekadar perayaan, melainkan sebuah perubahan sikap hidup menuju kebaikan yang berkelanjutan. “Id itu adalah hari ketika seseorang tidak lagi bermaksiat kepada Allah SWT,” ujarnya pada Rabu (25/3/2026).

Ia menjelaskan, esensi Idulfitri terletak pada proses kembali dari kebiasaan melanggar menuju kepatuhan penuh terhadap perintah Allah. Makna ini, menurutnya, sejalan dengan konsep ar-ruju’ minal mukhalafah ilal muwafaqah, yakni kembalinya manusia dari penyimpangan menuju ketaatan.

Kemenangan Sejati dalam Ketakwaan

Lebih lanjut, Prof. Hepni menekankan bahwa kemenangan sejati dalam Islam tidak diukur dari kemeriahan perayaan, melainkan dari tingkat ketakwaan seseorang setelah Ramadan. “Orang yang menang adalah mereka yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, bertakwa, serta takut kepada Allah,” katanya.

Ia juga menyebut Ramadan sebagai proses pembinaan spiritual yang intensif melalui puasa dan ibadah malam. Proses ini, lanjutnya, menjadi sarana penyucian jiwa atau tazkiyatun nafs yang membentuk kualitas spiritual umat Islam.

Ramadan sebagai Proses Pembersihan Dosa

“Melalui puasa dan ibadah malam Ramadan, seseorang mengalami pembersihan dosa hingga kembali suci seperti bayi yang baru dilahirkan,” ungkap Prof. Hepni. Ia menambahkan, proses tersebut merupakan bagian dari manajemen qalbu, yakni penguatan spiritual melalui pengendalian diri dan penghayatan ibadah.

Oleh karena itu, ia berharap umat Islam mampu mempertahankan kualitas ibadah dan ketakwaan yang telah terbangun selama Ramadan. “Idulfitri sejatinya adalah momentum lahir kembali secara spiritual, menjadi pribadi yang bersih dan lebih taat,” pungkasnya.