Sebuah video berdurasi sekitar tujuh menit yang menampilkan interaksi tegang antara seorang ibu tiri dan anak tirinya sempat menggemparkan jagat pada awal April 2026. Video tersebut, yang dengan cepat menyebar di platform seperti TikTok, Instagram, dan X, memicu beragam reaksi dari warganet, sebagian besar mengecam dugaan konflik dalam keluarga.

Namun, kepolisian , Jawa Barat, pada Kamis, 16 April 2026, akhirnya mengklarifikasi fakta sebenarnya di balik rekaman yang viral tersebut. Setelah melakukan penelusuran dan berkoordinasi dengan pihak keluarga, terungkap bahwa video tersebut bukanlah representasi konflik nyata, melainkan sebuah konten yang sengaja dibuat atau ‘prank’.

Klarifikasi dari Pihak Keluarga dan Polisi

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Depok, Komisaris Polisi Budi Santoso (nama samaran), menjelaskan bahwa pihaknya telah memanggil pihak-pihak terkait untuk dimintai keterangan. “Setelah kami dalami, ternyata video yang beredar itu adalah konten prank yang dibuat oleh ibu tiri dan anak tirinya sendiri. Tidak ada kekerasan atau konflik serius seperti yang dipersepsikan publik,” ujar Kompol Budi.

Ibu Rina (nama samaran), sosok ibu tiri dalam video tersebut, juga menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan yang ditimbulkan. Ia mengakui bahwa video itu dibuat untuk tujuan hiburan dan menarik perhatian di media sosial. “Kami hanya ingin membuat konten yang menarik, tidak menyangka akan jadi sebesar ini dampaknya,” kata Ibu Rina, yang didampingi oleh anak tirinya, Budi (nama samaran), saat memberikan keterangan.

Dampak dan Pelajaran dari Konten Viral

Video tersebut sempat memicu perdebatan luas mengenai dinamika keluarga, khususnya hubungan ibu tiri dan anak tiri, serta etika dalam membuat konten di media sosial. Banyak warganet yang awalnya bersimpati atau bahkan mengecam, kini merasa kecewa setelah mengetahui fakta sebenarnya.

Insiden ini kembali menyoroti pentingnya literasi digital dan kehati-hatian dalam menyaring informasi yang beredar di media sosial. Masyarakat diimbau untuk tidak mudah percaya pada konten yang sensasional tanpa melakukan verifikasi, mengingat banyak konten yang dibuat hanya untuk mencari atensi atau hiburan semata. Pihak keluarga juga berjanji akan lebih bijak dalam membuat konten di masa mendatang.