Jakarta, 14 April 2026 – Sebuah video berdurasi tujuh menit yang menampilkan interaksi sensitif antara seorang ibu tiri dan anak tiri di dua lokasi berbeda, yakni kebun sawit dan dapur, telah memicu kegaduhan di media sosial. Video tersebut kini dalam penyelidikan serius oleh pihak kepolisian setelah memicu perdebatan luas mengenai dugaan dan etika pembuatan konten.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat , Kombes Pol. Arya Wijaya, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menerima laporan terkait video tersebut. “Kami sedang dalam tahap penyelidikan awal untuk mengidentifikasi pihak-pihak terkait yang terlibat dalam pembuatan dan penyebaran video, serta motif di baliknya,” ujar Kombes Pol. Arya Wijaya pada Selasa (14/4/2026).

KemenPPPA Desak Penegakan Hukum

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) menyatakan keprihatinan mendalam atas beredarnya video viral ini. Deputi Bidang Perlindungan Anak KemenPPPA, Dr. Ratna Sari Dewi, mendesak aparat penegak hukum untuk bertindak cepat. “Kami mendesak aparat penegak hukum untuk bertindak cepat. Jika terbukti ada unsur eksploitasi anak, ini adalah pelanggaran berat yang harus ditindak tegas sesuai undang-undang yang berlaku,” tegas Dr. Ratna Sari Dewi.

KemenPPPA juga mengimbau masyarakat untuk tidak ikut menyebarluaskan video tersebut demi melindungi identitas dan privasi anak yang terlibat. Penyebaran konten yang melibatkan anak-anak dalam situasi rentan dapat memperburuk dampak psikologis yang mungkin mereka alami.

Kemiripan Pola dengan Skandal Dea Store

Perdebatan di kalangan netizen semakin memanas, dengan banyak yang menyoroti kemiripan pola video ini dengan skandal “Dea Store” yang sempat menghebohkan beberapa tahun lalu. Akun media sosial @WarganetPeduli di platform X menulis, “Ini seperti pola lama yang terulang, membuat konten kontroversial atau sensitif untuk menarik perhatian dan mungkin keuntungan finansial.”

Skandal Dea Store sebelumnya melibatkan penyebaran konten dewasa yang kemudian berujung pada proses hukum bagi para pelakunya. Kemiripan pola ini memunculkan dugaan bahwa video ibu tiri dan anak tiri tersebut mungkin sengaja dibuat untuk tujuan viralitas atau monetisasi, tanpa mempertimbangkan dampak etika dan hukum.

Dampak Psikologis pada Anak

Psikolog anak, Dr. Budi Santoso, menekankan pentingnya perlindungan psikologis bagi anak yang terlibat dalam video viral. “Terlepas dari motifnya, anak yang terekspos dalam situasi seperti itu berpotensi mengalami trauma jangka panjang, termasuk rasa malu, cemas, dan kesulitan dalam berinteraksi sosial,” jelas Dr. Budi Santoso.

Ia menambahkan bahwa lingkungan digital harus menjadi tempat yang lebih aman bagi anak-anak, dan semua pihak memiliki tanggung jawab untuk mencegah penyebaran konten yang merugikan mereka. “Penting bagi orang tua dan masyarakat untuk meningkatkan literasi digital serta melaporkan konten-konten yang melanggar hak anak,” pungkasnya.

Polda Metro Jaya terus mendalami kasus ini dan berkoordinasi dengan unit perlindungan perempuan dan anak untuk memastikan penanganan yang komprehensif, termasuk pendampingan psikologis bagi korban jika diperlukan.