Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menegaskan bahwa serangan terhadap Iran merupakan “perang yang dipaksakan”. Menurut Anwar, agresi ini didorong oleh ambisi hegemoni Israel di Asia Barat dan didukung penuh oleh Amerika Serikat.
Pernyataan tersebut disampaikan Anwar dalam sambutannya di acara Forum Ilmuwan Malaysia Madani yang berlangsung di Putrajaya, Malaysia, pada Senin, 16 Maret 2026.
Anwar Ibrahim Soroti Ambisi Hegemoni Israel
“Kita bertemu hari ini di tengah perang yang dipaksakan kepada negara berdaulat Iran dan rakyatnya, yang didorong ambisi hegemoni Israel di Asia Barat dan didukung mesin perang Amerika Serikat,” kata Anwar, mengutip laporan dari ANTARA.
Anwar menyoroti bahwa serangan di Iran dilakukan secara terarah terhadap para pemimpin spiritual, politik, dan militer dengan presisi tinggi. Ia juga menyebutkan bahwa serangan rudal bahkan menewaskan anak-anak sekolah yang sedang belajar.
“Korban tewas terus bertambah, tidak hanya di Iran tapi juga di tempat lain seperti Gaza, Lebanon – kota-kota yang kaya akan warisan sejarah dibom tanpa pandang bulu,” ujarnya, menggambarkan dampak luas dari konflik tersebut.
Menurut Perdana Menteri Malaysia, perang di Iran tidak dapat diukur sepenuhnya hanya dengan angka-angka. Kematian dan kehancuran yang terjadi, imbuhnya, adalah manifestasi dari realitas geopolitik yang lebih mendalam. Ia menilai ada upaya untuk memusnahkan, mendominasi, dan menaklukkan dengan segala cara dalam serangan yang terjadi.
Dampak Global dan Sikap Malaysia
Anwar menekankan bahwa perang ini berdampak ke seluruh dunia, termasuk Malaysia, dengan konsekuensi geopolitik dan geoekonomi yang luas. Menanggapi situasi ini, pemerintah Malaysia, dengan dukungan parlemen, telah mengambil posisi tegas.
Malaysia secara terbuka mengutuk agresi Israel dan Amerika Serikat sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan terhadap Republik Islam Iran yang merupakan negara merdeka dan berdaulat. Di saat bersamaan, Malaysia menyerukan penghentian eskalasi dan peningkatan aspek diplomatik di seluruh kawasan.
Anwar menegaskan bahwa jika hukum internasional ingin mempertahankan kredibilitasnya, maka hukum tersebut harus berlaku sama untuk semua negara tanpa terkecuali.
