Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Morowali Utara (Morut), Sulawesi Tengah, menegaskan komitmennya dalam mengawal percepatan penurunan stunting atau tengkes di wilayah tersebut. Upaya ini dilakukan melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat yang masif.

Program Pemberdayaan dan Kolaborasi Lintas Sektor

Ketua TP-PKK Morowali Utara, Febrianthi Hongkriwang, menyatakan bahwa program pemenuhan gizi pada ibu hamil dan anak menjadi salah satu kegiatan utama yang digencarkan. “Program pemberdayaan masyarakat melalui pemenuhan gizi pada ibu hamil dan anak salah satu kegiatan yang masif kami lakukan dengan memanfaatkan kader PKK di masing-masing wilayah,” ujar Febrianthi saat sosialisasi program PKK di Bungku Utara pada Senin (9/3/2026).

Febrianthi menekankan bahwa penanganan stunting tidak bisa hanya bergantung pada satu instansi teknis. Kolaborasi lintas sektor dianggap krusial untuk mempercepat penurunan prevalensi stunting. “Karena stunting merupakan masalah nasional yang harus secepatnya diatasi, karena berdampak pada tumbuh kembang anak di masa depan, sehingga generasi penerus harus memiliki fisik yang sehat dan kuat serta mental yang baik untuk melanjutkan pembangunan ke depan,” tambahnya.

Ia juga menegaskan pentingnya perhatian terhadap gizi anak sebagai generasi penerus bangsa. “Anak adalah generasi penerus bangsa, makan sudah sewajarnya gizi mereka harus diperhatikan,” katanya.

Data Prevalensi dan Aksi Konvergensi

Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2024, prevalensi stunting di Morowali Utara tercatat sebesar 24,7 persen. Angka ini mendorong TP-PKK untuk terus menggenjot langkah intervensi percepatan penanganan dengan melibatkan berbagai pihak.

Aksi konvergensi percepatan penurunan stunting telah diintegrasikan dengan program-program prioritas PKK, khususnya dalam penanganan stunting di daerah. “Tentu program pemberdayaan dengan pemenuhan gizi bayi di bawah dua tahun (baduta) maupun ibu hamil kami integrasikan dengan program pemerintah. Kami juga gencar memberikan makanan pendamping ASI kepada keluarga berisiko stunting,” jelas Febrianthi, yang juga seorang Senator Dapil Sulawesi Tengah.

Data dari Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) Morut menunjukkan bahwa terdapat 6.902 keluarga berisiko stunting. Sebagai mitra strategis pemerintah daerah, PKK turut bertanggung jawab dalam menekan prevalensi tersebut.

Pada kesempatan tersebut, Febrianthi Hongkriwang secara simbolis menyerahkan bantuan makanan pendamping ASI berupa telur dan beras kepada keluarga berisiko stunting di Kecamatan Bungku Utara. “Bantuan makanan pendamping ASI berupa telur dan beras yang diberikan merupakan stimulan awal bagi keluarga supaya kebutuhan dasar gizi anak dapat terpenuhi,” pungkasnya.