Sebuah rumah di Dusun Jatirejo, Desa Cangkring, Kecamatan Jenggawah, Jember, kembali dilalap si jago merah pada Senin (30/3/2026). Ini merupakan kali kelima rumah milik Misyana tersebut terbakar secara misterius, dengan api dilaporkan muncul dari sela-sela keramik lantai.

Petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Jember Regu A, Affan, mengungkapkan bahwa saat tiba di lokasi, api sudah membesar di ruang tamu. “Kejadian jam 9 WIB, saat kami di lokasi awal kebakaran di ruang tamu, bagian kursi terbakar besar. Warga membantu seadanya, saat kita semprot plafon yang terbuat dari kayu juga ikut terbakar dan jebol,” kata Affan, Senin (30/3/2026).

Dugaan Penyebab dan Riwayat Kebakaran Berulang

Affan menjelaskan, rumah yang dihuni oleh empat wanita ini telah mengalami insiden kebakaran sebanyak lima kali. “Menurut info pemilik rumah ini terjadi sudah kelima kalinya, sebelumnya ditangani regu damkar lain, saya regu A. Pertama di kasurnya, dan pemilik rumah menerangkan kalau api muncul dari sela-sela keramiknya,” terang Affan.

Dugaan awal petugas mengarah pada potensi biogas dari septictank lama yang tidak memiliki lubang angin, sehingga gas tersebut masuk ke dalam rumah. “Kemunginan ada biogas dari septic tank yang lama, masuk ke dalam rumah. Tapi itu cuma dugaan saja,” jelasnya.

Selain itu, dugaan lain adalah adanya unsur kesengajaan. Namun, Affan telah menanyakan kepada warga sekitar dan tidak menemukan indikasi adanya masalah antara pemilik rumah dengan pihak lain. “Kalau dugaan kedua, ada orang sengaja bakar itu. Tapi saya tanya ke warga sekitar, apakah ada masalah dengan pemilik rumah atau sebaliknya. Bahkan keterangan warga jika rumah itu beli dan bukan warisan,” sambungnya.

Pemeriksaan jaringan listrik di rumah tersebut juga menunjukkan kondisi normal, tidak ada gangguan atau kendala yang bisa memicu kebakaran.

Kronologi dan Dampak

Informasi dari keluarga dan tetangga menyebutkan bahwa kejadian kebakaran yang dianggap mistis ini telah terjadi sebanyak lima kali dalam kurun waktu sekitar sepuluh hari terakhir. Kebakaran sebelumnya diawali dari kamar yang membakar lemari, kasur, dan juga pernah terjadi di ruangan dapur. “Sedangkan untuk sasaran, memang barang-barang yang mudah terbakar,” lanjut Affan.

Bahkan, anak laki-laki Misyana yang tidak berada di lokasi sempat menyarankan agar keluarga mengungsi terlebih dahulu. “Saat kebakaran keempat kalinya sempat mengungsi beberapa hari. Begitu kembali, terjadi kelima kalinya,” urai Affan.

Beruntung, insiden kebakaran ini tidak menimbulkan korban jiwa. Warga sekitar turut membantu dengan memecahkan kaca dan jendela untuk memadamkan api.