Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob, memaparkan strategi pengamanan pasokan sulfur di tengah dinamika geopolitik global pada konferensi internasional Argus Fertilizer Asia Conference 2026 di Bali. Langkah ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan, sebagai anggota holding Pupuk Indonesia, untuk memperkuat ketahanan pangan dan kemandirian industri nasional.

Indonesia Hadapi Tantangan Pasokan Sulfur dari Timur Tengah

Daconi Khotob menyoroti ketergantungan Indonesia pada pasokan sulfur dari kawasan Timur Tengah. “Sekitar 33% perdagangan sulfur dunia atau 20 juta ton per tahun berasal dari kawasan Teluk Persia, dan Indonesia masih mengimpor lebih dari 75% kebutuhan sulfur dari kawasan Timur Tengah. Konflik geopolitik dan gangguan jalur logistik global dapat mempengaruhi harga dan pasokan sulfur dunia,” ujar Daconi dalam paparannya pada Selasa (31/3/2026).

Kebutuhan asam sulfat nasional terus meningkat, mencapai sekitar 19 juta ton per tahun. Sektor pupuk dan industri hilirisasi mineral, khususnya nikel, menjadi kontributor terbesar permintaan ini. Kondisi tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu pusat permintaan sulfur dunia, menjadikan sulfur komoditas strategis bagi ketahanan pangan dan industri.

Peran Petrokimia Gresik dalam Rantai Pasok Nasional

Petrokimia Gresik menegaskan posisinya bukan hanya sebagai bagian dari rantai pasok sulfur, melainkan juga sebagai solusi bagi industri nasional. Perusahaan ini memiliki pabrik asam sulfat dengan kapasitas produksi 1,8 juta ton per tahun yang terintegrasi dengan proses produksi pupuk dan produk kimia lainnya.

“Kami memiliki fasilitas pengolahan sulfur menjadi asam sulfat yang terintegrasi dengan proses produksi pupuk dan produk kimia. Melalui fasilitas ini, Petrokimia Gresik juga berkontribusi pada penguatan pasokan bahan baku industri dalam negeri,” jelas Daconi.

Strategi Pengamanan Pasokan di Tengah Dinamika Global

Menanggapi dinamika geopolitik yang mempengaruhi pasokan dan harga sulfur dunia, Petrokimia Gresik memperkuat strategi pengamanan bahan baku. Langkah-langkah yang diambil meliputi diversifikasi sumber pasokan sulfur, penguatan kontrak jangka panjang untuk stabilitas pasokan dan harga, serta optimalisasi infrastruktur penyimpanan dan distribusi.

“Langkah ini penting untuk menjaga ketahanan industri pupuk dan kimia nasional, mengingat sulfur dan asam sulfat merupakan bahan baku utama dalam produksi pupuk fosfat dan NPK, serta digunakan dalam berbagai industri seperti pengolahan logam, pengolahan air, dan industri kimia lainnya,” tambah Daconi.

Daconi juga menjelaskan bahwa Indonesia kini menjadi pusat permintaan global untuk sulfur. Hal ini didorong oleh kebijakan hilirisasi mineral, ekspansi rantai pasok baterai nikel seiring pertumbuhan produksi baterai kendaraan listrik (EV) yang meningkatkan kebutuhan sulfur (terutama untuk proses high-pressure acid leaching/HPAL), serta penerapan regulasi lingkungan yang semakin ketat.

Dalam menghadapi tantangan global ini, Petrokimia Gresik memprioritaskan stabilitas pasokan dan produksi pupuk nasional demi mendukung swasembada pangan. “Kami terus melakukan upaya optimal dalam menjaga keberlangsungan produksi melalui penguatan supply chain dan kapasitas domestik, sehingga kebutuhan pupuk nasional dapat tetap terpenuhi dengan baik sebagai bagian dari ketahanan pangan nasional,” tutup Daconi.