PT Pertamina Patra Niaga menyiagakan 345 armada kapal untuk menjamin distribusi energi nasional tetap aman di tengah meningkatnya tensi geopolitik global. Langkah ini diambil menyusul lonjakan mobilitas masyarakat dan ketidakpastian rantai pasok akibat konflik di Timur Tengah.
Hingga akhir Maret 2026, permintaan masyarakat terhadap gasolin dan LPG terus merangkak naik seiring pulihnya aktivitas ekonomi. Di sisi lain, ketidakpastian rantai pasok global akibat konflik di kawasan produsen minyak menuntut manajemen logistik yang lebih tangguh agar stok di tingkat konsumen tetap stabil.
Strategi Mitigasi Berlapis Pertamina
Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo, mengungkapkan bahwa perusahaan telah menyiapkan langkah mitigasi berlapis. Fokusnya bukan sekadar mengamankan stok di tangki penyimpanan, melainkan memastikan moda transportasi pengangkutnya bergerak tanpa kendala.
“Kami memantau situasi global setiap saat dan memastikan sistem distribusi energi tetap prima. Dukungan armada logistik serta infrastruktur penunjang beroperasi penuh supaya kebutuhan masyarakat di berbagai wilayah Indonesia terpenuhi tanpa hambatan,” ujar Ega dalam keterangan resminya, Selasa (31/3/2026).
Kunci utama ketahanan distribusi ini terletak pada kekuatan armada laut. Saat ini, Pertamina Patra Niaga mengandalkan 345 kapal pengangkut, baik milik sendiri maupun sewa, yang berfungsi sebagai jembatan energi antar-pulau. Ratusan kapal ini mengangkut BBM, LPG, hingga Avtur dari kilang dan terminal besar menuju titik suplai terjauh di wilayah barat maupun timur Indonesia.
Optimalisasi jalur laut ini menjadi krusial mengingat sifat geografis Indonesia yang kepulauan. Dengan pengelolaan rantai pasok yang terintegrasi, perusahaan berupaya mendiversifikasi sumber pasokan agar tidak bergantung pada satu titik yang rentan terdampak dinamika global.
Komitmen HSSE dan Emisi Nol Bersih
Ega menambahkan, seluruh operasional distribusi ini tetap berpedoman pada standar HSSE (Health, Safety, Security, and Environment) yang ketat. Selain menjaga ketersediaan energi untuk menggerakkan ekonomi, Pertamina juga tetap menyelaraskan langkahnya dengan komitmen jangka panjang menuju emisi nol bersih pada 2060.
Melalui koordinasi intensif bersama pemerintah, Subholding Downstream Pertamina ini berjanji menjaga ritme distribusi agar denyut nadi perekonomian di daerah tetap berputar meski kondisi dunia sedang dipenuhi ketidakpastian.
