PROBOLINGGO – Peluang usaha ternak puyuh di Kota Probolinggo masih terbuka lebar, didorong oleh tingginya permintaan pasar yang belum mampu diimbangi oleh produksi lokal. Kondisi ini menciptakan potensi besar bagi para pelaku usaha di sektor peternakan.
Ismi Buchori (34), seorang peternak asal Kelurahan Jrebeng Lor, menjadi salah satu pionir yang telah mengembangkan bisnis ini sejak tahun 2015. Dalam kurun waktu lebih dari satu dekade, ia tidak hanya menjadi pembudidaya, tetapi juga aktif membina jaringan peternak di berbagai daerah.
Menurut Ismi, permintaan telur puyuh di Probolinggo saat ini mencapai sekitar 1.000 unit, sementara produksi dari peternak lokal baru mampu menyuplai sekitar 200 unit. “Permintaan di Probolinggo mencapai sekitar 1.000, sementara produksi lokal baru mampu menyuplai sekitar 200,” ujar Ismi, Kamis (30/4/2026).
Untuk menutup defisit pasokan, telur puyuh di Probolinggo masih harus didatangkan dari daerah lain seperti Pasuruan dan Lumajang. Ismi sendiri mengelola volume peredaran telur puyuh yang cukup signifikan, mencapai 400 hingga 800 kilogram setiap minggunya.
Menyadari ketergantungan pasokan dari luar, Ismi juga berupaya mengembangkan usaha pembibitan puyuh secara mandiri. “Pengembangan bibit masih terbatas karena kendala pembiayaan, tetapi terus kami upayakan agar ke depan bisa mandiri,” jelasnya.
Selain fokus pada produksi, Ismi aktif membina peternak di sejumlah wilayah, termasuk Triwung, Paiton, hingga beberapa daerah di Kabupaten Probolinggo dan sekitarnya. Jangkauan pembinaan bahkan meluas secara daring hingga ke luar Pulau Jawa.
Upaya Ismi ini menarik perhatian pemerintah. Pada tahun 2018, Dinas Peternakan Kabupaten Probolinggo mempercayakan penyediaan 5.000 bibit puyuh beserta pendampingan bagi peternak baru kepadanya.
Tidak hanya telur, Ismi juga mengembangkan produk olahan berupa daging puyuh beku sejak tahun 2017. Usaha ini tidak hanya menambah nilai produk, tetapi juga berhasil memberdayakan 5 hingga 10 warga sekitar untuk memenuhi kebutuhan pasar katering dan warung makan.
Terbaru, pada Maret 2026, Ismi dipercaya memasok sekitar 500 kilogram telur puyuh untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Probolinggo, menunjukkan kontribusinya pada program pemerintah.
Meski prospeknya menjanjikan, Ismi mengingatkan bahwa usaha ternak puyuh juga memiliki tantangan tersendiri, seperti fluktuasi harga pasar dan pengelolaan limbah yang memerlukan penanganan tepat. “Potensinya masih besar, tetapi tetap perlu manajemen yang baik agar usaha ini bisa berkelanjutan,” pungkas Ismi.
