Jember dilanda banjir terparah dalam satu dekade terakhir pada awal 2026, merendam 7.445 rumah warga. Menanggapi kondisi darurat ini, Satuan Tugas (Satgas) Infrastruktur dan Tata Ruang Pemerintah Kabupaten Jember kini bergerak cepat memetakan dampak kerusakan yang terjadi.

Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Jember, Akhmad Helmi Luqman, bersama jajaran Satgas, meninjau langsung sejumlah lokasi terdampak pada Senin, 16 Februari 2026. Langkah ini diambil untuk mempercepat pemulihan infrastruktur vital dan memastikan keselamatan ribuan warga.

Kerusakan Jembatan dan Skala Prioritas Penanganan

Helmi mengungkapkan, bencana banjir kali ini merupakan salah satu yang cukup parah dalam kurun waktu lebih dari 10 tahun terakhir. Beberapa jembatan dilaporkan rusak parah, termasuk Jembatan Cinta di Desa Jubung (Kecamatan Sukorambi), Jembatan Merah Putih di Desa Pakis (Kecamatan Panti), dan Jembatan Sentool di Desa Suci (Kecamatan Panti).

“Kami meninjau semua titik, baik infrastruktur desa, kabupaten, maupun provinsi. Semuanya dipetakan untuk menentukan skala prioritas penanganan. Kami akan berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk percepatan perbaikan ini,” ujar Helmi, Senin (16/2/2026).

Pemerintah Kabupaten Jember telah menetapkan masa siaga darurat bencana hingga 26 Februari 2026, mengingat potensi cuaca ekstrem yang diprediksi masih akan berlangsung. “Pesan dari Ibu Gubernur sudah jelas, Jember menjadi prioritas untuk perbaikan infrastruktur terdampak. Kami meminta masyarakat tetap waspada dan saling bahu-membahu dalam menghadapi situasi ini,” tutup Helmi.

Evaluasi Teknis dan Rencana Peningkatan Konstruksi

Sementara itu, Kepala Dinas PU Bina Marga Jawa Timur, Edy Tambeng Widjaja, menyatakan pihaknya juga tengah memetakan tingkat kerusakan untuk menentukan langkah perbaikan selanjutnya. Edy menyoroti dampak signifikan banjir, terutama pada jembatan-jembatan dengan bentang luas, seperti yang ditemukan di wilayah Jombang.

Secara teknis, Edy menjelaskan bahwa konstruksi jembatan yang ada sebenarnya tidak memiliki masalah fundamental. Namun, debit air yang sangat tinggi akibat hujan deras berdurasi lama melampaui kapasitas desain jembatan.

“Rata-rata jembatan kita posisinya rendah. Ketika hujan turun dengan durasi lama dan intensitas deras, debit air meningkat drastis hingga terjadi overtopping atau air meluap melampaui lantai jembatan, yang kemudian menyeret konstruksinya hingga roboh,” jelas Edy.

Sebagai langkah evaluasi, Dinas PU Bina Marga Jawa Timur mempertimbangkan untuk menambah ketinggian jembatan pada proses pembangunan kembali nantinya. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir risiko serupa di masa depan, mengingat pola cuaca yang sulit diprediksi.

Mengenai target penyelesaian, Edy menekankan bahwa timnya masih melakukan pengecekan mendalam terhadap komponen vital jembatan. “Kami akan melihat dulu di lapangan secara detail. Jika harus ganti, ya kita ganti. Setelah semua data terkumpul, segera kami laporkan kepada Ibu Gubernur untuk langkah eksekusi ke depan,” pungkasnya.