Pembalap muda Spanyol, Pedro Acosta, menyatakan duel sengitnya melawan Marc Marquez dalam sprint race MotoGP di Buriram merupakan pertarungan terbaik sepanjang kariernya di kelas premier. Rider tim Red Bull KTM Factory Racing tersebut terlibat persaingan ketat dengan Marquez pada lap-lap akhir sprint race yang berlangsung di Chang International Circuit, Thailand.

Balapan berubah dramatis setelah pemimpin lomba di awal, Marco Bezzecchi, mengalami kecelakaan dan gagal melanjutkan. Insiden ini membuka peluang bagi Acosta untuk memperebutkan kemenangan langsung dengan Marquez.

Saling Salip di Tikungan Krusial

Setelah Bezzecchi tersingkir, Acosta mulai menekan Marquez di barisan depan. Pembalap berusia 20 tahun itu berulang kali mencoba menyalip di tikungan terakhir dengan pengereman keras. Acosta sempat berhasil masuk ke sisi dalam tikungan dan mengambil posisi terdepan, namun Marquez mampu merebut kembali posisi tersebut berkat akselerasi yang lebih baik saat keluar tikungan.

Pertarungan sengit ini berlangsung selama beberapa lap. Kesalahan kecil Marquez di sektor infield saat balapan menyisakan tiga lap dimanfaatkan Acosta untuk mempertahankan posisi terdepan. Menurut Acosta, duel tersebut menjadi pengalaman yang sangat berkesan baginya.

“Super menyenangkan. Ini adalah pertarungan terbaik saya sejauh ini di MotoGP,” kata Acosta.

Kontak dengan Marquez Berujung Penalti

Marquez tidak menyerah dan terus menekan hingga lap-lap terakhir. Dalam salah satu upaya menyalip di tikungan terakhir, pembalap bernomor #93 itu melakukan pengereman sangat dalam yang menyebabkan kontak dengan Acosta. Insiden tersebut membuat Acosta melebar dari racing line.

Setelah meninjau kejadian, steward dari Fédération Internationale de Motocyclisme (FIM) menjatuhkan penalti “drop one position” kepada Marquez. Penalti ini praktis menentukan hasil sprint race. Marquez baru menyadari adanya hukuman tersebut setelah keluar dari tikungan kedua terakhir. Karena tidak memiliki kesempatan untuk merespons, Marquez akhirnya membiarkan Acosta melewatinya di tikungan terakhir sebagai bentuk menjalankan penalti.

Acosta Menikmati Duel Agresif

Meski sempat terjadi kontak di lintasan, Acosta menegaskan bahwa duel agresif justru menjadi daya tarik utama MotoGP. Ia tidak mempermasalahkan manuver Marquez yang dinilai cukup keras.

“Ini yang membuat MotoGP begitu menarik. Pertarungan seperti ini yang akan selalu diingat,” ujarnya. Acosta juga mengaku senang bisa bertarung langsung dengan pembalap yang selama ini menjadi salah satu referensinya di dunia balap motor.

Mengingatkan pada Balapan Moto3

Dalam balapan utama grand prix, Acosta kembali terlibat pertarungan sengit dengan beberapa pembalap papan atas, termasuk juara dunia MotoGP lainnya, Jorge Martin. Ia sempat melakukan beberapa manuver menyalip terhadap Martin dan Marquez sebelum akhirnya finis di posisi kedua di belakang Bezzecchi.

Acosta mengatakan gaya balapan penuh overtake tersebut mengingatkannya pada masa ketika masih berlaga di kelas junior. “Saya menikmatinya seperti saat di Moto3, ketika biasanya saya banyak melakukan overtake,” kata Acosta.

Ingin Meniru Strategi Bezzecchi

Meski puas dengan duel yang terjadi, Acosta mengakui pendekatan yang lebih ideal sebenarnya seperti yang dilakukan Bezzecchi, yaitu memimpin balapan sejak awal dan menjauh dari para rival.

“Lain kali mungkin kami harus mencoba seperti Marco, yang langsung menjauh di depan dan tidak terlibat dalam pertarungan yang berantakan,” ujarnya.

Saat ini, Acosta juga mencatatkan sejarah sebagai pembalap pertama KTM yang mampu memimpin klasemen sementara MotoGP 2026. Ia akan membawa keunggulan tujuh poin atas Bezzecchi menuju seri berikutnya yang dijadwalkan berlangsung di Goiania pada akhir pekan mendatang.