Polsek Pademangan, Jakarta Utara, mengintensifkan upaya pencegahan tawuran dan kegiatan Sahur On The Road (SOTR) selama bulan Ramadan 1447 Hijriah. Langkah ini diwujudkan melalui penyekatan di sejumlah lokasi perbatasan serta patroli wilayah secara rutin.

Kapolsek Pademangan Kompol Immanuel Sinaga menyatakan bahwa pihaknya telah mendirikan pos pantau di beberapa titik strategis. “Kami mendirikan pos pantau yang akan ditempati personel kepolisian, TNI, serta ormas untuk menjaga keamanan, ketertiban, masyarakat selama bulan Ramadan,” kata Kompol Immanuel Sinaga di Jakarta, Kamis, 19 Februari 2026.

Dalam pelaksanaannya, Polsek Pademangan menerapkan kolaborasi tiga pilar, melibatkan kecamatan, Koramil, serta perangkat wilayah seperti LMK, FKDM, dan Karang Taruna. Menurut Sinaga, menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat tidak dapat dilakukan sendiri, melainkan harus secara bersama-sama dengan melibatkan masyarakat dan pemangku kebijakan. “Ini sesuai dengan arahan Kapolda Metro Jaya agar bersama-sama dengan masyarakat menjaga keamanan dan ketertiban wilayah,” tambahnya.

Empat pos pemantauan didirikan di lokasi-lokasi rawan, yakni di Jalan Gurun Sahari dekat Maspion, Jalan Benyamin Sueb, kawasan Bintang Mas, dan dekat Masjid Keramat. Pos-pos ini dipilih karena berbatasan langsung dengan wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Pusat, yang sering menjadi jalur perlintasan bagi pelaku tawuran.

Selain itu, Polsek Pademangan juga melibatkan Ketua RT dan RW untuk melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat. “Kami juga melibatkan RT dan RW yang lebih dekat dengan masyarakat melakukan sosialisasi agar tidak ada yang terlibat tawuran dan SOTR,” jelas Sinaga.

Sebagai langkah antisipasi, patroli rutin juga digencarkan. Remaja yang masih berkeliaran di atas pukul 00.00 WIB akan digelandang ke Polsek Pademangan untuk pembinaan. Keesokan harinya, orang tua, guru, Ketua RT, dan Ketua RW wajib hadir di Polsek untuk menjemput anak tersebut. “Ini sebagai efek jera agar tidak ada lagi anak yang keluyuran malam hari dan berujung pada aksi tawuran,” tegasnya.

Sinaga menjelaskan bahwa wilayah Pademangan sering menjadi lokasi pilihan untuk aksi tawuran, baik antar pelajar maupun antar kampung, karena posisinya sebagai daerah perlintasan. Aksi tawuran sering diawali dengan saling ejek dan ajakan di media sosial, perang sarung, atau bermain petasan yang berujung perkelahian. “Jadi saat akan masuk ke wilayah langsung kita hadang dan suruh putar balik,” ungkap Sinaga.

Pihaknya berkomitmen penuh untuk mencegah terjadinya aksi tawuran, terutama yang menggunakan senjata tajam dan berpotensi menyebabkan kehilangan nyawa. “Kami tidak ingin itu terjadi dan kami kumpulkan seluruh pihak terkait, masyarakat untuk menyamakan visi agar hal ini tidak terjadi,” pungkas Kompol Immanuel Sinaga.