Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan memperluas jangkauan perlindungan kesehatan masyarakat melalui peluncuran program Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue di Kota Palembang pada Rabu, 18 Februari 2026. Inisiatif ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan, Dinas Kesehatan Kota Palembang, dan Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (FK Unsri).
Komitmen Berkelanjutan Hadapi Dengue
Gubernur Sumatra Selatan, Dr. H. Herman Deru, menegaskan penanganan dengue harus dilakukan secara berkelanjutan dan berbasis data. “Dengue bukan sekadar isu musiman, melainkan tantangan kesehatan yang harus kita hadapi secara berkelanjutan dan terencana. Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan memiliki komitmen kuat untuk memperkuat upaya pencegahan dengue, sejalan dengan target nasional dan global menuju nol kematian akibat dengue pada 2030,” ujarnya.
Urgensi Data Dengue di Sumatra Selatan
Urgensi program ini diperkuat oleh data kesehatan tahun 2025 yang mencatat 4.437 kasus dengue dengan 22 kematian di seluruh Sumatra Selatan. Palembang menjadi wilayah dengan beban tertinggi, yakni mencapai 968 kasus dan 3 kematian.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatra Selatan, dr. H. Trisnawarman, menyoroti profil kerentanan usia dalam lima hingga tujuh tahun terakhir. Data menunjukkan bahwa kelompok umur 15-44 tahun menyumbang 42% dari total kasus, sementara 41% kematian justru ditemukan pada anak-anak usia 5-14 tahun.
Mekanisme Program dan Vaksinasi
Program pemantauan aktif di Palembang menyasar 7.500 anak di 60 Sekolah Dasar yang tersebar di wilayah kerja 10 Puskesmas dengan tingkat kejadian tertinggi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 5.000 anak akan mendapatkan vaksinasi.
Ketua Pelaksana program, dr. Ariesti Karmila, Sp.A (K)., menjelaskan bahwa vaksinasi hadir untuk melengkapi metode pencegahan yang sudah ada. “Metode inovatif, termasuk vaksinasi, hadir sebagai pelengkap untuk memperkuat upaya-upaya tersebut sehingga pencegahan dapat dilakukan secara lebih menyeluruh,” tuturnya. Vaksin yang digunakan telah tersedia di Indonesia selama lebih dari tiga tahun dan mendapat rekomendasi dari asosiasi medis.
Visi Nasional Menuju Nol Kematian 2030
Secara nasional, program ini merupakan bagian dari studi multinegara yang berlangsung di tiga kota besar: Jakarta, Palembang, dan Banjarmasin. Penanggung Jawab Kegiatan Nasional, Prof. Dr. dr. Sri Rezeki Hadinegoro, Sp.A(K), berharap hasil pemantauan ini dapat menjadi fondasi kebijakan nasional. “Hasil dari pemantauan aktif ini sangat dinantikan sebagai dasar pemberian vaksinasi dengue dalam program nasional untuk menyongsong ‘Zero dengue death’ di tahun 2030,” tegas Prof. Sri.
Melalui sinergi lintas sektor, termasuk dukungan dari PT Takeda Innovative Medicines, Palembang diharapkan menjadi model penguatan sistem ketahanan kesehatan bagi wilayah lain di Indonesia.
Head of Medical Affairs, PT Takeda Innovative Medicines dr. Arif Abdillah, menyampaikan komitmen perusahaannya. “Sebagai mitra jangka panjang Indonesia, Takeda berkomitmen untuk mendukung upaya berkelanjutan dalam melindungi masyarakat dari dengue. Tantangan dengue tidak dapat diselesaikan melalui satu pendekatan saja, melainkan membutuhkan kerja sama lintas sektor yang konsisten, berbasis sains, dan berorientasi pada dampak jangka panjang.”
Ia menambahkan, “Melalui kolaborasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan, Dinas Kesehatan Kota Palembang, dan Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya dalam program pemantauan aktif ini, kami mendukung upaya penguatan perlindungan kesehatan anak-anak, sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat dan melindungi lebih banyak keluarga dari risiko penyakit seperti dengue.”
“Inisiatif ini juga turut memberikan pemahaman yang lebih baik dalam pencegahan dengue ke depan dan sejalan dengan misi Takeda untuk berkontribusi pada peningkatan kesehatan masyarakat secara berkelanjutan,” pungkas dr. Arif Abdillah.
