Fenomena tanah ambles masih terus terjadi di Kecamatan Banjarejo dan Tunjungan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, dipicu oleh intensitas hujan yang tinggi. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan warga, terutama mereka yang tinggal di daerah rawan bencana, meskipun belum ada rencana relokasi atau pengungsian.
Pergerakan tanah dilaporkan masih berlangsung dengan rata-rata penurunan sekitar 2 sentimeter per hari. Di Dukuh Ngetrep, Desa Tutup, Kecamatan Tunjungan, amblesan mencapai 15-30 sentimeter dengan rekahan sepanjang 100 meter, mengakibatkan sejumlah rumah warga mengalami kerusakan parah. Sementara itu, di Dukuh Sambiroto, Desa Buluroto, Kecamatan Banjarejo, penurunan tanah mencapai 50 sentimeter dengan panjang rekahan hingga 200 meter, merusak tiga rumah warga.
Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Blora, Agung Triyono, membenarkan kondisi tersebut. “Setiap hari terjadi tanah ambles dan terus meluas,” ujarnya.
Selain memberikan imbauan kepada warga untuk waspada, BPBD Blora juga telah menurunkan petugas untuk memantau kondisi di dua kecamatan tersebut, khususnya saat cuaca ekstrem seperti hujan lebat disertai angin kencang dan sambaran petir. Agung Triyono menambahkan, pergerakan tanah yang masih berlangsung sekitar dua sentimeter per hari ini menuntut kewaspadaan warga, karena hujan deras berdurasi panjang akan mempercepat amblesan di daerah rawan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Cabang Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Wilayah Kendeng Selatan di Blora, Hadi Susanto, menjelaskan hasil penelitian yang dilakukan. Menurutnya, wilayah terdampak tanah ambles didominasi oleh tanah aluvial yang berada di sekitar daerah aliran sungai (DAS).
“Tanah aluvial di sekitar DAS mudah jenuh air, yakni ketika berlangsung hujan deras, air masuk ke rekahan tanah hingga menambah beban dan akhirnya memicu amblesan atau pergerakan tanah,” terang Hadi Susanto.
Secara geologi, Hadi Susanto memastikan tidak ditemukan sesar aktif di wilayah terdampak. Namun, kejadian serupa memang cenderung meningkat pada musim hujan dibandingkan musim kemarau, terutama di kecamatan yang berada di sekitar aliran sungai. Ia juga menepis anggapan bahwa pengeboran air tanah menjadi pemicu signifikan. “Pengeboran air tanah dampaknya tidak signifikan,” imbuhnya, seraya menyebut tingkat pemanfaatan air tanah di Kabupaten Blora masih tergolong kecil.
Meskipun pemetaan detail potensi pergerakan tanah di daerah ujung timur Jawa Tengah belum tersedia, Hadi Susanto membuka peluang untuk kajian lanjutan apabila Pemerintah Kabupaten Blora mengajukan permohonan resmi. Ke depan, koordinasi lintas sektor akan dilakukan bersama Dinas PUPR, Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSDA), dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana untuk penanganan lebih lanjut.
