Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap peredaran link video sensasional berjudul ‘ibu tiri vs anak tiri’ yang marak di berbagai platform komunikasi digital. Pakar keamanan siber dan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mengidentifikasi tautan tersebut sebagai modus baru penipuan daring yang bertujuan mencuri data pribadi pengguna.
Modus operandi penipuan ini memanfaatkan rasa penasaran publik terhadap konten viral. Pelaku menyebarkan link melalui aplikasi pesan instan seperti WhatsApp dan Telegram, serta platform media sosial. Ketika pengguna mengklik tautan tersebut, mereka akan diarahkan ke halaman palsu yang menyerupai situs berita atau platform video, atau bahkan diminta untuk mengunduh aplikasi tertentu untuk dapat menonton video secara penuh.
Ancaman Pencurian Data Sensitif
Kepala Pusat Operasi Keamanan Siber Nasional BSSN, Brigjen TNI (Purn.) Ir. Djoko Setiadi, dalam keterangan persnya pada Rabu (15/4/2026), menegaskan bahwa “link semacam ini adalah jebakan phishing. Begitu diklik, data sensitif seperti Nomor Induk Kependudukan (NIK), nomor rekening bank, kode OTP, hingga kata sandi media sosial dan perbankan bisa langsung diretas.” Ia menambahkan bahwa aplikasi yang diminta untuk diunduh seringkali mengandung malware jenis trojan atau spyware yang bekerja di latar belakang tanpa disadari korban.
Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) juga telah menerima sejumlah laporan terkait modus penipuan serupa. Juru Bicara Kominfo, Dedy Permadi, mengimbau masyarakat untuk selalu memverifikasi keaslian tautan sebelum mengkliknya. “Jangan mudah tergiur dengan judul yang provokatif atau sensasional. Selalu curiga terhadap link yang meminta Anda untuk login atau mengunduh sesuatu yang tidak dikenal,” ujar Dedy.
Langkah Pencegahan dan Mitigasi Risiko
Untuk menghindari menjadi korban, ada beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan. Pertama, jangan pernah mengklik tautan yang mencurigakan, terutama jika berasal dari nomor atau akun yang tidak dikenal. Kedua, pastikan untuk selalu mengaktifkan fitur otentikasi dua faktor (2FA) pada semua akun digital, mulai dari email, media sosial, hingga perbankan.
Ketiga, gunakan perangkat lunak antivirus yang terpercaya dan pastikan selalu diperbarui. Keempat, laporkan setiap temuan link penipuan kepada pihak berwenang atau platform terkait agar dapat segera ditindaklanjuti. Edukasi digital yang berkelanjutan menjadi kunci utama dalam menghadapi ancaman siber yang terus berevolusi.
