Rentetan tragedi bunuh diri yang melibatkan pelajar dari berbagai jenjang pendidikan di Indonesia dalam sepekan terakhir memicu kekhawatiran serius. Fenomena ini, mulai dari kasus mahasiswa di Nusa Tenggara Timur (NTT), siswa SD di Demak, hingga pelajar di Bandung, menunjukkan rapuhnya benteng kesehatan mental generasi muda. Dr. Suko Widodo, Ketua Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Jawa Timur, menilai ruang digital menjadi pemicu utama di balik serangkaian peristiwa tragis tersebut.

Menurut Suko, ada tekanan psikososial yang jauh lebih berat karena anak-anak zaman sekarang hidup dalam dua dunia yang saling tumpang tindih, yakni fisik dan digital. “Anak-anak kita bernapas di dua ruang sekaligus. Masalahnya, tekanan di jagat maya itu terjadi non-stop selama 24 jam. Seringkali orang tua atau guru sama sekali tidak menyadari badai yang sedang berkecamuk di ponsel anak mereka,” ujar Dosen Komunikasi Universitas Airlangga (UNAIR) itu, Rabu (25/2/2026).

Suko membedah fenomena ini melalui kacamata Teori Kultivasi, di mana media sosial terus-menerus memborbardir remaja dengan standar kehidupan yang semu. Ia menjelaskan, seolah-olah kebahagiaan, popularitas, dan kesuksesan adalah kewajiban yang harus dipenuhi. Ketika realitas hidup mereka tidak sesuai dengan apa yang tampil di layar, muncul rasa tidak berdaya yang akut.

Lebih lanjut, media sosial kini berfungsi sebagai amplifikasi emosi. Algoritma platform digital sengaja dirancang untuk menyuguhkan konten yang sesuai dengan suasana hati penggunanya. “Remaja yang baru putus cinta atau stres karena tugas sekolah akan terus disuapi konten yang setipe dengan kegalauan mereka. Ini yang berbahaya, karena emosi negatif itu terus diperkuat oleh apa yang mereka lihat di linimasa,” urainya.

Kondisi ini menciptakan ironi yang menyedihkan, di mana seorang remaja bisa memiliki ribuan pengikut atau teman di dunia maya, namun secara mental mereka merasa terisolasi total. Guna memutus rantai tragedi ini, Suko mendesak adanya penguatan literasi digital yang lebih mendalam.

Literasi digital, menurutnya, tidak boleh hanya soal cara mengoperasikan gawai, tetapi harus masuk ke ranah kesadaran emosional. Sekolah dan keluarga wajib membangun sistem deteksi dini untuk membaca perubahan sekecil apa pun pada perilaku anak. “Mereka mungkin terhubung dengan ratusan orang setiap detik secara daring, tetapi secara batiniah mereka sendirian. Tugas kita adalah memastikan suara mereka benar-benar didengar, bukan sekadar melihat mereka aktif di layar,” tegas Suko.

Ia juga meminta media massa untuk berhenti menyajikan berita bunuh diri secara vulgar atau sensasional. Pemberitaan yang berlebihan tanpa menyertakan akses layanan bantuan justru berisiko memicu aksi tiruan (copycat suicide) di kalangan remaja yang sedang tidak stabil.