Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Tengah bersama Hannah Asa Indonesia memperluas edukasi keuangan yang inklusif dan praktis. Program ini secara khusus menyasar kelompok rentan dan komunitas penyandang disabilitas di Palu, Sulawesi Tengah.

Kepala OJK Sulawesi Tengah, Bonny Hardy Putra, di Palu pada Minggu, 10 Mei 2026, menekankan pentingnya memastikan seluruh lapisan masyarakat memperoleh akses edukasi keuangan yang setara. “Penyandang disabilitas memiliki hak yang sama untuk memahami dan mengakses layanan keuangan yang aman, legal dan bermanfaat,” ujar Bonny.

Melalui kolaborasi dengan Hannah Asa Indonesia, OJK menyelenggarakan kegiatan Bootcamp Literasi dan Inklusi Keuangan. Acara ini mengusung tema “Edukasi Keuangan dan Business Matching kepada Komunitas Penyandang Disabilitas Kota Palu”, bertujuan memastikan literasi keuangan dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.

Pada kesempatan tersebut, OJK juga meluncurkan dan menyerahkan secara simbolis Buku Saku Pengelolaan Keuangan yang dirancang khusus untuk penyandang disabilitas. Buku ini merupakan hasil kolaborasi OJK bersama Kementerian Sosial Republik Indonesia, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, dan Komisi Nasional Disabilitas Republik Indonesia, sebagai bagian dari upaya penguatan akses literasi keuangan yang ramah disabilitas.

Sementara itu, Founder Hannah Asa Indonesia, Mardiyah, menggarisbawahi bahwa kemandirian finansial tidak hanya berkaitan dengan akses terhadap layanan keuangan, tetapi juga kemampuan dalam mengelola keuangan secara bijak. “Mandiri finansial adalah kondisi ketika seseorang mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, memiliki kontrol atas arus kas, dan mampu mengambil keputusan keuangan secara sadar tanpa tekanan,” jelas Mardiyah.

Mardiyah juga menyoroti data dari Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2025 OJK. Survei tersebut menunjukkan bahwa tingkat inklusi keuangan Indonesia mencapai 80,51 persen, namun tingkat literasi keuangan baru sekitar 66,46 persen. “Artinya, banyak masyarakat sudah memiliki akses keuangan, tetapi belum tentu memahami cara mengelolanya,” tambahnya.

Kegiatan bootcamp ini diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai kalangan, termasuk komunitas penyandang disabilitas, komunitas inklusif, mitra perbankan, serta berbagai pemangku kepentingan sektor jasa keuangan.

Para peserta mendapatkan materi komprehensif terkait pengelolaan dana darurat dan perlindungan konsumen jasa keuangan. Selain itu, mereka juga memperoleh pemahaman mendalam mengenai investasi legal dan aman di pasar modal, yang disampaikan bersama Bursa Efek Indonesia Sulawesi Tengah.

Melalui inisiatif ini, diharapkan literasi keuangan tidak hanya berhenti sebagai pengetahuan semata, tetapi dapat menjadi gerakan nyata dalam menciptakan masyarakat yang lebih mandiri, berdaya, dan siap menghadapi tantangan ekonomi di masa depan.