Pemerintah Iran merespons positif permintaan Indonesia terkait pembebasan dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS) yang tertahan di Selat Hormuz. Respons ini membuka jalan bagi pembahasan teknis agar kedua kapal dapat melintas dengan aman.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, Vahd Nabyl A. Mulachela, memastikan adanya tanggapan baik dari Teheran. “Dalam perkembangannya, telah terdapat tanggapan positif dari pihak Iran,” kata Nabyl di Jakarta, Jumat (27/3).
Menyusul respons tersebut, Kemlu bersama PIS kini fokus membahas aspek teknis dan operasional. Pjs Corporate Secretary Pertamina International Shipping, Vega Pita, menjelaskan bahwa diskusi ini bertujuan memastikan kelancaran perjalanan kapal.
“PIS bersama Kemlu tengah membahas teknis agar kedua kapal, yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro, dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman,” ujar Vega kepada ANTARA, Sabtu (28/3).
Kapal Pertamina Pride beroperasi untuk memenuhi kebutuhan energi nasional, sementara Gamsunoro melayani distribusi energi bagi pihak ketiga. Kedua kapal tersebut saat ini masih berada di Teluk Arab/Teluk Persia.
Prioritas utama Pertamina adalah keselamatan seluruh awak kapal, serta keamanan kapal dan muatannya. Vega juga memohon dukungan dari masyarakat Indonesia. “Kami mohon doa dan dukungan dari seluruh masyarakat Indonesia agar proses ini dapat terselesaikan dengan baik,” ucapnya.
Vega turut menyampaikan apresiasi kepada Kemlu RI atas dukungan penuh dalam menangani situasi ini. Sejak Selat Hormuz ditutup akibat peperangan antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran, PIS telah berkoordinasi intensif dengan Kemlu.
Kemlu, bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Teheran, secara aktif menjalin komunikasi diplomatik dengan otoritas terkait di Iran. “Hingga saat ini, upaya diplomasi tersebut terus berjalan,” tambah Vega.
Meskipun langkah tindak lanjut telah dijalankan, Nabyl belum dapat memberikan waktu pasti kapan kedua kapal tanker tersebut bisa keluar dari Selat Hormuz.
