Wali Kota Bandung Muhammad Farhan merefleksikan satu tahun pertama masa kepemimpinannya sebagai fase krusial untuk meletakkan pondasi pembangunan jangka panjang Kota Bandung. Ia menilai, capaian dalam setahun ini merupakan dasar bagi keberlanjutan visi kota ke depan.
“Alhamdulillah, berkah. Saya menyadari saya punya banyak kekurangan. Ada kritik ada fitnah, ada yang ngaraco. Tapi itu hal biasa,” ungkap Farhan pada Minggu (1/2/2026).
Menurut Farhan, kepemimpinan di Kota Bandung tidak dapat hanya dilihat dari hasil jangka pendek. Tahun pertama ini adalah upaya awal untuk memastikan visi “Bandung unggul, terbuka, amanah, maju, dan agamis” dapat berjalan berkelanjutan selama lima tahun masa jabatannya.
“Kepemimpinan ini sifatnya jangka panjang, lima tahun. Apa yang terjadi di setahun pertama adalah upaya meletakkan dasar agar visi Bandung unggul, terbuka, amanah, maju, dan agamis bisa berkelanjutan minimal lima tahun ke depan,” tuturnya.
Program Prakarsa Ungkap Persoalan Riil
Salah satu program kunci yang disebut Farhan membantu memahami persoalan riil di lapangan adalah Program Siskamling Siaga Bencana dan Prakarsa. Melalui program ini, ia bersama jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) turun langsung ke kelurahan dan RW di berbagai wilayah Kota Bandung.
“Salah satu program yang kami kick off adalah Prakarsa. Saya keliling ke setiap kelurahan dan RW. Itu bukan pekerjaan biasa. Dari situ saya menemukan banyak permasalahan, tapi juga selalu ada solusi,” jelasnya.
Dari kunjungan tersebut, Farhan menyoroti masalah beranghang (saluran air/gorong-gorong) yang banyak ditemukan. Ia menyebutkan, di sekitar kawasan Lodaya, terdapat 46 titik beranghang bermasalah yang akan dibongkar.
“Contohnya branghang. Banyak beranghang bermasalah. Di sekitar Lodaya ada 46 titik bermasalah dan akan dibongkar. Tidak mudah, karena rumahnya sudah lama. Tapi ada contoh solusi seperti di Jalan Tengku Angkasa, pemanfaatannya bagus,” paparnya.
Pengalaman ini, kata Farhan, membuka pandangannya bahwa berbagai persoalan di wilayah sebenarnya telah memiliki contoh solusi yang bisa direplikasi.
“Itu membuka mata saya bahwa permasalahan di wilayah sebenarnya sudah ada solusinya,” tandasnya.
Siap Hadapi Ketidaknyamanan
Farhan juga merefleksikan bahwa posisi pemimpin bukanlah zona nyaman, melainkan kesiapan untuk menghadapi berbagai ketidaknyamanan secara langsung di tengah masyarakat.
“Secara pribadi saya menyimpulkan bahwa memang pekerjaan jadi pemimpin adalah pekerjaan yang tidak boleh nyaman,” terangnya.
Ia menambahkan, berbagai fasilitas jabatan seperti rumah dinas, kendaraan dinas, hingga pengawalan tidak serta-merta menghadirkan ketenangan batin. Terutama ketika seorang pemimpin menyadari masih banyak persoalan warga yang harus diselesaikan.
Ketidaknyamanan justru menjadi pengingat agar pemimpin tidak larut dalam rasa aman, melainkan terus hadir dan peka terhadap kondisi nyata masyarakat.
“Tidak kemudian membuat saya ‘ah sudah beres, sudah nyaman di dalam mobil AC’. Tidak bisa. Ada banyak ketidaknyamanan yang harus dihadapi dan itu dihadapinya harus bersama-sama,” pungkasnya.
