Kembalinya seri MotoGP ke Brasil pada kalender 2026 sempat diwarnai kekhawatiran setelah banjir melanda Autodromo Internacional de Goiania. Namun, setelah air surut dan proses pembersihan intensif rampung, kondisi lintasan justru menghadirkan karakter yang dinilai “menipu” oleh tim dan pembalap.

Sirkuit Goiania Pascabanjir: Grip Tinggi yang Tidak Konsisten

Hujan deras mengguyur Goiânia sejak awal pekan, menyebabkan genangan di sejumlah titik penting sirkuit, termasuk terowongan akses paddock dan beberapa tikungan. Situasi ini sempat memicu kekhawatiran terkait kelangsungan balapan, mengingat MotoGP baru kembali ke Brasil setelah terakhir kali digelar pada 2004. Otoritas setempat bahkan mengeluarkan peringatan darurat akibat potensi banjir susulan.

Penyelenggara bergerak cepat dengan melakukan pembersihan dan pengeringan lintasan. Dengan dukungan suhu hangat, kondisi trek berangsur pulih menjelang sesi latihan. Setelah kondisi membaik, sejumlah tim dan pembalap melakukan track walk untuk mengevaluasi permukaan lintasan.

Direktur tim Ducati Lenovo Team, Davide Tardozzi, menilai aspal sirkuit memiliki tingkat cengkeraman yang tinggi. Namun, penilaian tersebut tidak sepenuhnya berarti kondisi ideal. Pembalap KTM Factory Racing, Pedro Acosta, menyebut lintasan masih “kotor” di beberapa bagian. “Kondisinya cukup baik dan teknis, tapi aspalnya masih kotor. Ini bisa menyulitkan semua pembalap,” ujar Acosta.

Kondisi ini membuat grip terasa tinggi di beberapa sektor, tetapi tidak konsisten di seluruh lintasan. Faktor tersebut berpotensi menjebak pembalap jika salah membaca kondisi trek.

Tantangan Sirkuit Baru dan Persaingan Ketat

Sirkuit Goiania menjadi tantangan tersendiri karena minimnya data bagi tim dan pembalap. Trek ini terakhir digunakan untuk grand prix pada akhir 1980-an sebelum mengalami renovasi, termasuk pelapisan ulang aspal. Dengan karakter lintasan yang teknis dan dominasi tikungan tertentu, ditambah kondisi pascabanjir, tim harus bekerja ekstra dalam menemukan setelan optimal.

Minimnya pengalaman juga membuat sesi latihan menjadi krusial untuk memahami perubahan grip dan racing line. Pedro Acosta datang ke Brasil sebagai pemuncak klasemen sementara setelah tampil impresif di seri pembuka Thailand, meraih kemenangan Sprint dan finis kedua di balapan utama.

Sementara itu, Ducati Lenovo Team masih berusaha bangkit setelah hasil kurang maksimal di Buriram. Marc Marquez gagal finis akibat masalah teknis, membuat tim kehilangan momentum awal musim. Dengan kondisi lintasan yang belum sepenuhnya stabil, peluang kemenangan terbuka lebar bagi berbagai tim, termasuk Aprilia dan KTM yang tampil kuat di awal musim.

Kondisi lintasan yang “menipu” membuat kemampuan adaptasi menjadi faktor kunci. Pembalap yang mampu membaca perubahan grip dan memahami karakter aspal lebih cepat diprediksi akan unggul. MotoGP Brasil 2026 pun diperkirakan menghadirkan balapan yang tidak hanya cepat, tetapi juga penuh risiko, seiring kombinasi cuaca ekstrem, lintasan baru, dan tingkat grip yang belum sepenuhnya konsisten.