Suasana menjelang perayaan Lebaran Ketupat pada Rabu, 25 Maret 2026, mulai terasa di Tulungagung. Sejumlah pedagang kulit ketupat dan janur, atau daun kelapa muda, tampak bermunculan di sekitar area Pasar Ngemplak. Fenomena ini menjadi penanda dimulainya tradisi tahunan yang dinanti masyarakat setempat.

Makna dan Tradisi Lebaran Ketupat

Lebaran Ketupat, yang jatuh pada hari ketujuh setelah Hari Raya Idul Fitri, merupakan momen penting bagi sebagian besar masyarakat Jawa. Perayaan ini sekaligus menandai selesainya puasa sunah enam hari di bulan Syawal. Hidangan ketupat selalu menjadi menu utama, melambangkan pengakuan kesalahan atau ‘laku lepat’ dalam filosofi Jawa.

Animo masyarakat untuk membeli bahan baku ketupat, baik janur maupun kulit ketupat yang sudah dirangkai, diprediksi akan terus meningkat dalam beberapa hari ke depan.

Berkah Musiman bagi Pedagang Janur

Salah satu pedagang yang memanfaatkan momen ini adalah Purwanto. Ia mengaku selalu berjualan di wilayah Pasar Ngemplak Tulungagung setiap menjelang Lebaran Ketupat. “Setiap tradisi Lebaran ketupat, memang saya berjualan di Pasar Ngemplak,” ujarnya pada Rabu (25/3/2026).

Purwanto menawarkan dua jenis produk: janur berbentuk lonjoran dan janur yang sudah dirangkai menjadi kulit ketupat siap pakai. Pilihan ini disesuaikan dengan kebutuhan pembeli. “Tapi kalau masyarakat yang masih bisa merangkai ketupat, biasanya lebih memilih untuk beli janur lonjoran,” terangnya.

Harga janur lonjoran bervariasi antara Rp35 ribu hingga Rp45 ribu per lonjor, tergantung kualitasnya. “Satu lonjor berisi sekitar 100 lembar janur. Kalau kualitasnya bagus harganya bisa Rp45 ribu,” jelas Purwanto.

Sementara itu, untuk kulit ketupat yang sudah jadi, harganya lebih terjangkau. Satu ikat kulit ketupat dijual seharga Rp10 ribu. “Harga ketupat yang sudah jadi itu Rp1000 per biji. Biasanya orang-orang beli satu atau dua ikat untuk Lebaran ketupat,” paparnya.

Purwanto optimistis penjualan tahun ini akan meningkat. Tahun lalu, ia berhasil menjual 300 lonjor janur. “Kalau tahun ini saya bawa hampir 300 lonjor janur. Semoga bisa habis seperti tahun lalu,” ungkapnya penuh harap.

Kepraktisan Jadi Pilihan Warga

Pilihan untuk membeli ketupat yang sudah jadi juga diungkapkan oleh Maifan, salah seorang warga. Ia mengaku setiap tahun selalu membeli kulit ketupat untuk keluarganya. Namun, karena tidak ada anggota keluarga yang bisa merangkai janur, ia lebih memilih membeli yang sudah berbentuk ketupat.

“Ini saya gunakan pribadi bersama keluarga. Kebetulan keluarga kami tidak bisa merangkai janur, jadi memilih beli ketupat yang sudah jadi. Lebih praktis dan murah,” pungkas Maifan.