KAIRO – Mesir secara aktif mengupayakan deeskalasi ketegangan yang meningkat di kawasan Timur Tengah. Langkah ini dilakukan melalui kerja sama dengan sejumlah kekuatan regional dan internasional, termasuk Rusia, dalam upaya menstabilkan situasi yang semakin memanas.

Menteri Luar Negeri Mesir, Badr Abdelatty, menegaskan komitmen negaranya dalam sebuah konferensi pers di Kairo. “Kami berupaya melakukan deeskalasi ketegangan di kawasan ini dengan pihak-pihak regional dan internasional, seperti Pakistan, Turki, negara-negara Teluk, Amerika Serikat, Rusia, China, dan Uni Eropa,” ujar Abdelatty, Kamis (26/3/2026).

Proposal AS dan Penolakan Iran

Upaya Mesir ini muncul di tengah dinamika diplomatik yang kompleks. Pada Selasa (24/3/2026), New York Times melaporkan, mengutip sumber anonim, bahwa Washington telah mengajukan rencana 15 poin kepada Teheran untuk menyelesaikan konflik di Timur Tengah. Proposal ini diajukan seiring dengan meningkatnya dampak konflik terhadap perekonomian Amerika Serikat.

Namun, stasiun televisi Iran, Press TV, yang juga mengutip sebuah sumber, melaporkan bahwa Iran menolak proposal Amerika tersebut. Penolakan ini mengindikasikan masih jauhnya titik temu antara kedua belah pihak.

Latar Belakang Konflik dan Pergeseran Klaim

Ketegangan di kawasan ini semakin memuncak setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan signifikan dan menimbulkan korban sipil.

Iran segera membalas aksi tersebut dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer milik Amerika Serikat yang berada di Timur Tengah. Awalnya, Amerika Serikat dan Israel mengklaim bahwa serangan mereka diperlukan untuk melawan ancaman yang dianggap berasal dari program nuklir Iran.

Namun, klaim tersebut kemudian bergeser. Kedua negara itu segera memperjelas bahwa serangan tersebut dilakukan karena mereka ingin melihat perubahan kekuasaan di Iran, sebuah pernyataan yang semakin memperkeruh situasi politik di kawasan.