Kasus pembunuhan seorang siswa SMP berinisial ZAAQ (14) atau Zein, yang jasadnya ditemukan di kawasan eks Kampung Gajah, Bandung, pada Jumat (13/2/2026), menguak fakta-fakta mengejutkan. Dua remaja, YA (17) dan AP (17), telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus yang terjadi pada Senin (9/2/2026) lalu.
Kapolres Cimahi, AKBP Niko N Adi Putra, menjelaskan bahwa YA diduga sebagai otak sekaligus eksekutor pembunuhan, sementara AP berperan mengamankan lokasi saat eksekusi berlangsung. Publik dibuat merinding setelah rekam jejak media sosial tersangka utama, YA, yang belakangan diketahui memiliki kedekatan tak wajar dengan korban, terekspos di dunia maya.
Hubungan Pelaku dan Korban yang Penuh Kekerasan
Paman korban, Undang Supriatna, mengungkapkan bahwa Zein dan YA ternyata sudah lama saling mengenal. Bahkan, setahun sebelum kejadian tragis ini, YA pernah terlibat insiden kekerasan terhadap Zein.
“Sebenarnya pernah dulu hampir setahun pernah ketemuan sama keluarga, dulu pernah terjadi pemukulan pelaku terhadap korban. Yang dipukul matanya. Sampai ngumpul di rumah ini dimusyawarahkan keluarga sana juga hadir sama RT-nya,” ujar Undang saat ditemui.
Meski demikian, Undang menegaskan bahwa Zein tidak pernah menganggap YA sebagai teman. Justru sebaliknya, Zein kerap menjadi korban perundungan dan pemalakan oleh YA.
“Sebetulnya kedekatannya dianggap teman juga bukan teman, karena yang saya dengar dari cucu saya sering dipalakin, kan satu sekolah. Kedekatannya bukan sebagai teman, tapi kayak di-bully lah,” ungkapnya.
Keluarga Zein bahkan sudah mengultimatum YA untuk tidak lagi menemui korban. “Dulu udah langsung sama orang tuanya, kita komunikasi. Malah kita intruksikan jangan sampai pelaku ini menghubungi atau mendatangi atau ketemu sama korban, kita udah kasih ketegasan sama pelaku,” tambah Undang.
Atas kejadian itulah, keluarga memutuskan untuk memindahkan Zein dari Garut ke Bandung. “Makanya kita pindahkan ke Bandung untuk menghindari dari pelaku,” katanya.
Dugaan Penyimpangan Seksual dan Jejak Digital Mengerikan
Keputusan memindahkan Zein juga diperkuat oleh informasi yang diterima keluarga mengenai perilaku YA. Undang menyebut bahwa YA diduga mengalami penyimpangan seksual sebagai penyuka sesama jenis.
“Diduga dari hasil informasi, pelaku ada kelainan kayak laki-laki suka laki-laki, dari informasi dari guru di sekolah. Makanya kita menghindarkan korban tersebut, tadinya niat sekolah di Garut tapi karena ada kejadian seperti itu makanya kita pindahkan ke Bandung, ke bapaknya,” kata Undang.
Dugaan keluarga korban ini semakin diperkuat dengan temuan publik atas rekam jejak media sosial YA. Alih-alih menunjukkan penyesalan, unggahan dan komentar YA justru memperlihatkan obsesi aneh terhadap korban.
Dalam berbagai komentarnya di TikTok, YA kerap menuliskan nada-nada galau yang ditujukan kepada Zein. “Kangen Ade Zein,” tulis pelaku dalam sebuah postingan. “Zeinlah yang selalu buatku nyaman, tapi dia sudah pergi,” curhatnya di komentar lain. “Kesalahanku ditinggal ade,” tulisnya di kesempatan berbeda, lengkap dengan tagar #sahabat.
Ungkapan-ungkapan tersebut sontak membuat publik bergidik ngeri, mengingat kini Zein telah tewas di tangan orang yang selama ini mengaku “sayang” padanya.
Kronologi Pembunuhan Sadis
Sebelumnya, polisi mengungkap bahwa YA dan AP berangkat dari Garut ke Bandung dengan sepeda motor. YA bahkan telah membawa sangkur atau pisau dari Garut yang disimpan di bawah jok motor.
Sesampainya di Bandung, keduanya bertemu Zein di dekat sekolah korban. YA mengajak Zein mengobrol di sekitar eks Kampung Gajah. Namun, karena lokasi depan masih ramai, YA mengajak korban masuk ke area dalam, sementara AP menunggu di luar. Sebelum masuk, YA mengambil sangkur dari jaketnya.
Di lokasi, terjadi cekcok hingga YA emosi dan memukul kepala korban dengan botol. “Setelah dipukul botol, korban masih sadar, pelaku menusuk perut korban,” kata AKBP Niko.
Usai mengeksekusi, YA mengambil ponsel dan jaket korban, lalu meninggalkan Zein yang masih dalam kondisi hidup. Keduanya kemudian kembali ke Garut. Jasad Zein baru ditemukan lima hari kemudian, pada Jumat (13/2/2026), oleh kreator konten yang kebetulan melintas di lokasi. Kasus ini masih dalam pengembangan pihak kepolisian, sementara keluarga korban berharap pelaku dihukum seberat-beratnya.
