Pemerintah Kabupaten Tuban menggelar Pasar Murah Ramadan selama 18 hari, dimulai sejak Senin, 23 Februari 2026. Program ini merupakan langkah intervensi daerah untuk menekan lonjakan inflasi serta menjaga ketersediaan pasokan pangan menjelang Hari Raya Idulfitri. Untuk mengantisipasi potensi penimbunan, Pemkab Tuban memberlakukan pembatasan pembelian.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretaris Daerah Kabupaten Tuban, Agus Wijaya, menjelaskan bahwa kebijakan pembatasan ini diambil setelah mencermati tren harga bahan pokok penting (bapokting) yang menunjukkan kenaikan signifikan dalam beberapa pekan terakhir. “Kami melihat kecenderungan harga sembako naik cukup signifikan. Karena itu kami hadir untuk menstabilkan harga dan memastikan pasokan tersedia,” ujar Agus pada Rabu (25/2).
Pasar Murah Ramadan ini menyediakan sembilan komoditas strategis yang dipilih karena pengaruhnya terhadap inflasi daerah dan tingginya permintaan saat Ramadan. Komoditas tersebut meliputi beras, minyak goreng, gula pasir, telur, cabai rawit, cabai merah besar, cabai keriting, bawang merah, dan bawang putih.
Agus menambahkan, seluruh komoditas dijual di bawah harga pasar. Namun, untuk komoditas dengan fluktuasi harga tinggi seperti cabai, harga akan disesuaikan dengan perkembangan harian. Di sisi distribusi, pemerintah mengoptimalkan pasokan dari wilayah penghasil cabai di Tuban, seperti Kecamatan Bancar, Grabagan, Kerek, dan Kenduruan, guna menjaga ketersediaan barang di pasar murah.
Guna mencegah pemborongan oleh oknum tertentu, Pemkab Tuban menerapkan pembatasan pembelian. Beras kemasan 5 kilogram dibatasi maksimal dua kemasan per orang. Sementara itu, cabai dan bawang dijual dalam bentuk kemasan dengan batasan satu kemasan per pembeli, untuk memastikan distribusi yang merata kepada masyarakat.
Pemerintah juga memberlakukan sistem monitoring dan evaluasi harian. Setiap lokasi pasar murah memiliki penanggung jawab yang bertugas melaporkan perkembangan stok, volume penjualan, serta dinamika di lapangan. Jika stok menipis, tambahan pasokan akan segera dikirimkan. “Kami tidak ingin masyarakat panik atau kesulitan mendapatkan kebutuhan pokok. Target kami harga stabil sampai menjelang lebaran dan inflasi tetap terkendali,” pungkas Agus Wijaya.
