Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan pemerintah tidak akan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi hingga perayaan Idulfitri 2026. Jaminan ini disampaikan di tengah isu kenaikan harga minyak mentah dunia akibat konflik Israel-Amerika Serikat dengan Iran.

“Pemerintah, kemarin kita juga melakukan pembahasan dengan Menteri Keuangan, saya dapat memastikan untuk menyangkut subsidi BBM, sampai dengan Hari Raya (Idulfitri) Insyaallah tidak ada kenaikan apa-apa,” ujar Bahlil dalam unggahan media sosial YouTube Kementerian ESDM, Kamis (12/3/2026).

Bahlil menegaskan bahwa subsidi dari pemerintah dinilai cukup untuk menopang kebutuhan BBM masyarakat, terutama selama periode arus mudik dan balik Lebaran. Ia menekankan komitmen negara untuk menjaga stabilitas harga.

“Jadi, negara hadir untuk memastikan bahwa sekali pun ada kenaikan harga minyak mentah dunia, tetapi untuk subsidi tetap sama, tidak ada kenaikan harga, untuk minyak subsidi ya,” tegasnya.

Menurut Bahlil, meskipun terjadi fluktuasi harga minyak mentah dunia dalam beberapa hari terakhir, hal tersebut belum cukup signifikan untuk mengubah asumsi anggaran subsidi BBM yang telah ditetapkan. Asumsi rata-rata harga minyak per barel dalam setahun adalah 70 dolar AS.

“Kita masih aman, masih kuat. Ini kan baru beberapa hari naiknya. Kita kan subsidinya setahun penuh. Rata-rata setahun 70 (dolar AS per barel) asumsi kita. Ini kan baru beberapa hari saya. Jadi, belum cukup untuk mengubah anggaran kita. Jadi kita masih bisa absorb,” jelasnya.

Senada dengan Bahlil, Menteri Keuangan Purbaya sebelumnya mengungkapkan bahwa harga minyak mentah dunia masih akan sangat fluktuatif. Pemerintah perlu kehati-hatian dalam merespons pergerakan harga tersebut.

“Itu bisa naik, bisa turun cepat loh. Jadi, kita lihat, pastikan, betul enggak naik, betul enggak turun. Begitu beberapa hari, beberapa minggu naik, ya sudah kita bisa antisipasi naik terus. Ini kan enggak. (Harga, red.) naik, tiba-tiba turun lagi. Nanti kalau harga minyak turun, kita ubah lagi, repot kan. Jadi, menetapkan respons APBN itu lebih hati-hati dibandingkan dengan merespons gerakan saham,” ujar Purbaya.

Purbaya menambahkan, pemerintah akan terus melakukan pengamatan terhadap tren harga minyak mentah dunia dalam beberapa waktu ke depan sebelum mengambil kebijakan. Respons terhadap APBN harus dilakukan dengan cermat.

“Saya pikir cukup, sekarang ini berubah-ubah kan. 120 (dolar AS) yang kemarin, tinggi. Berapa sekarang, 90 (dolar AS). Kalau turun lagi bagaimana? Kan berubah terus. Jadi, kita nanti tebak arahnya yang sebetulnya seperti apa,” tegas Purbaya.