Di tengah bayang-bayang ancaman banjir tahunan, sekelompok pemuda di Desa Babang Buyangge, Kecamatan Kintom, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, memilih untuk tidak menyerah pada keadaan. Melalui inisiatif Kolektif Tolitan, mereka berkolaborasi dengan PT Donggi Senoro LNG (DSLNG) untuk menanam “benteng hijau” di bantaran sungai, mengubah potensi bencana menjadi harapan baru bagi lingkungan dan masyarakat.

Gerakan ini terwujud dalam program bertajuk “Menanam Masa Depan: Pendampingan Kolektif Tolitan Perkuat Kesadaran Konservasi Lingkungan”, yang secara resmi dilaksanakan pada Selasa, 24 Februari 2026. Program ini merupakan buah kerja sama erat antara PT DSLNG, masyarakat lokal, pemerintah desa, serta Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Palu Poso.

Sebanyak 27 pemuda yang tergabung dalam Kolektif Tolitan menjadi garda terdepan gerakan ini. Berawal dari keresahan mendalam terhadap berbagai isu lingkungan, mulai dari kebiasaan membuang sampah sembarangan ke sungai, praktik pembakaran lahan, hingga penebangan liar, mereka bertekad untuk bertransformasi menjadi agen perubahan positif di desa mereka.

Aksi nyata mereka telah dimulai sejak Oktober hingga Desember 2025, di mana kelompok ini berhasil menanam 500 bibit tanaman kehutanan di sepanjang bantaran sungai. Bibit-bibit tersebut terdiri dari 80 pohon Nantu (Palaquium obovatum Engl.), 60 pohon Palapi (Heritiera simplicifolia), dan 260 pohon Eboni atau kayu hitam (Diospyros celebica). Penanaman ini dirancang sebagai solusi berbasis alam yang efektif untuk mengurangi risiko banjir, dengan cara memperkuat struktur tanah dan memperlambat laju aliran air saat curah hujan tinggi.

Namun, inovasi Kolektif Tolitan tidak berhenti di situ. Memasuki tahun 2026, mereka mulai mengembangkan unit pembibitan mandiri, termasuk budidaya bibit kakao yang tidak hanya memiliki nilai ekologis, tetapi juga potensi ekonomi yang signifikan. Inisiatif ini menandai terobosan penting, mengubah aktivitas konservasi dari sekadar upaya pelestarian lingkungan menjadi peluang nyata untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat setempat.

Program ini secara komprehensif menjawab tantangan bagaimana menjaga kelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan. Jawabannya terletak pada pendekatan terpadu yang memadukan konservasi, pemberdayaan, dan pengembangan ekonomi lokal. Melalui pendampingan intensif dari DSLNG, kapasitas pemuda desa meningkat secara signifikan. Mereka kini memiliki perencanaan kerja yang lebih terstruktur, kemampuan teknis dalam pembibitan, serta keterampilan mengorganisasi masyarakat. Dampaknya mulai terlihat jelas, dengan meningkatnya kesadaran warga terhadap pentingnya menjaga lingkungan. Lebih dari itu, kehadiran Kolektif Tolitan berhasil menghidupkan kembali peran vital pemuda dalam pembangunan desa.

Di tengah tantangan perubahan iklim global dan tekanan lingkungan yang terus meningkat, apa yang telah dilakukan oleh Kolektif Tolitan di Babang Buyangge membuktikan satu hal: solusi besar sering kali berawal dari langkah kecil, yaitu kepedulian tulus dan keberanian untuk bergerak demi masa depan yang lebih baik.

sumber gambar: gesit.id