Bima – Konsistensi dan dedikasi dalam dunia akademik telah mengantarkan Adi Apriadi Adiansha, seorang dosen di STKIP Taman Siswa Bima, meraih jabatan Lektor Kepala. Pencapaian ini menjadi sorotan lantaran Adi berhasil menapaki jenjang tersebut dengan kualifikasi magister, sebuah jalur yang tidak umum dalam sistem jabatan fungsional dosen yang kerap mengidentikkan Lektor Kepala dengan gelar doktor.

Perjalanan akademik Adi Apriadi tidak dibangun di atas sensasi, melainkan melalui disiplin panjang dalam riset, publikasi, dan pengabdian pendidikan. Lulusan Program Studi Pendidikan Matematika dari STKIP Taman Siswa Bima ini kemudian melanjutkan studi magister di Universitas Negeri Jakarta pada bidang Pendidikan Dasar. Sejak awal, ia dikenal sebagai sosok yang tekun pada proses, membangun tradisi membaca referensi ilmiah, menulis artikel akademik, serta aktif berdiskusi mengenai isu-isu pendidikan yang relevan.

Konsistensi Riset dan Publikasi Ilmiah

Memasuki fase sebagai dosen, produktivitas riset Adi meningkat secara signifikan. Sejak 2019 hingga 2026, ia terlibat dalam berbagai program hibah penelitian kementerian. Program-program tersebut meliputi skema Penelitian Dosen Pemula (PDP), Penelitian Dosen Kompetitif Nasional (PDKN), hingga pengembangan pembelajaran digital seperti e-learning dan SPADA. Capaian hibah ini menunjukkan konsistensi akademik yang berkelanjutan dari perguruan tinggi daerah.

Selain aktif meneliti, Adi juga rutin mempublikasikan artikel di jurnal ilmiah nasional. Kontribusinya meluas hingga peran dalam pengelolaan jurnal akademik, bahkan dipercaya menjadi reviewer pada jurnal internasional bereputasi yang terindeks Scopus Q2. Peran ini menuntut integritas ilmiah serta ketajaman analisis dalam menilai naskah penelitian, menegaskan kualitas keilmuan yang dimilikinya.

Menembus Batas Pakem Akademik

Rekam jejak akademik Adi tercermin dari skor SINTA yang mencapai 1.104, menjadikannya yang tertinggi di lingkungan kampusnya. Angka ini merupakan indikator konsistensi publikasi dan kontribusi ilmiah yang luar biasa. Meskipun Lektor Kepala umumnya identik dengan kualifikasi doktor, regulasi memberikan ruang bagi dosen bergelar magister yang memiliki angka kredit dan produktivitas ilmiah tinggi untuk menapaki jenjang tersebut.

Melalui akumulasi karya ilmiah, penelitian, pengabdian, serta kontribusi akademik yang konsisten, Adi resmi meraih Lektor Kepala pada tahun 2025. Capaian ini tidak hanya menjadi tonggak penting bagi dirinya pribadi, tetapi juga berkontribusi pada penguatan budaya akademik di STKIP Taman Siswa Bima, kampus yang digagas almarhum H. Sudirman Ismail.

Tetap Mengakar pada Dunia Pendidikan

Di tengah padatnya aktivitas akademik, Adi Apriadi juga aktif terlibat sebagai pengajar praktik dan fasilitator bagi guru. Keterlibatan ini memperkuat keterhubungan antara penelitian yang ia lakukan dengan praktik pendidikan di lapangan. Baginya, riset tidak hanya berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi harus memberi dampak nyata terhadap proses pembelajaran dan pengembangan kualitas guru di Indonesia.

Kisah perjalanan Adi Apriadi menjadi Lektor Kepala dengan kualifikasi magister ini menjadi inspirasi berharga bagi dosen muda dan mahasiswa di daerah. Ia membuktikan bahwa konsistensi, disiplin, dan etos kerja dapat menjadi faktor penentu dalam karier akademik, terlepas dari keterbatasan geografis. Ruang pengabdian dan prestasi tidak ditentukan oleh lokasi, melainkan oleh kebiasaan kerja ilmiah yang berkelanjutan.