Merayakan ulang tahun ketiganya, Grey Art Gallery Bandung terus memperluas perannya sebagai penggerak ekosistem seni rupa kontemporer. Upaya ini diwujudkan melalui pengembangan ruang, program, dan platform kuratorial yang saling terhubung.
Dua inisiatif penting yang menandai fase baru ini adalah kehadiran Grey Cube, sebuah ruang baru dalam ekosistem galeri, serta penyelenggaraan Grey Award 2026 yang kini memasuki edisi kedua.
Visi Ekosistem Seni Rupa Berkelanjutan
Manager Grey Art Gallery Bandung, Angga atmadilaga, menyatakan bahwa Grey tidak dibangun untuk menghadirkan satu representasi tunggal seni rupa kontemporer. “Melainkan sebagai struktur berlapis yang memungkinkan beragam praktik, posisi artistik dan model distribusi saling berkelindan,” ujarnya.
Setiap ruang dan program dirancang dengan peran, skala, dan orientasi yang berbeda, namun tetap terhubung dalam satu visi pengembangan yang berkelanjutan.
Grey Cube: Simpul Baru di Jalan Braga
Angga menjelaskan, Grey Cube diperkenalkan sebagai simpul baru dalam ekosistem Grey Art Gallery yang berlokasi di Jalan Braga, Kota Bandung. “Ruang ini tidak dimaksudkan untuk berdiri sendiri, melainkan memperkuat lapisan ekosistem yang telah ada melalui fokus kuratorial yang lebih terarah,” jelasnya.
Pemilihan karya di Grey Cube didasarkan pada praktik artistik yang telah berkembang serta relevansinya dalam lanskap seni rupa yang lebih luas. Pendekatan ini memungkinkan karya hadir dengan posisi artistik yang tegas, sekaligus mendukung sirkulasi, distribusi, dan apresiasi karya.
Pada edisi pembukaannya, Grey Cube menampilkan karya dari Aryo Saloko, Eldwin Pradipta, Heri Dono, Ikie Morphacio, Joko Avianto, Mujahidin Nurrahman, RE Hartanto, dan Toni Antonius. “Para seniman ini dipertemukan dalam satu ruang tanpa upaya penyamaan arah atau gaya, sehingga setiap karya dapat hadir dengan karakter dan kekuatannya masing-masing,” tutur Angga.
Grey Award 2026: Dorong Eksplorasi Artistik
Sejalan dengan penguatan ruang, Grey Art Gallery juga melanjutkan komitmennya melalui Grey Award 2026. Pameran dan penghargaan seni rupa ini menempatkan eksplorasi, eksperimentasi, dan perumusan sikap artistik sebagai nilai utama. Tahun ini menandai penyelenggaraan Grey Award ke-2, sebagai bagian dari upaya berkelanjutan dalam mendorong regenerasi dan penguatan ekosistem seni rupa kontemporer Indonesia.
“Mengusung tema Monochrome as Manifesto, Grey Award 2026 memposisikan monokrom bukan sekadar pendekatan visual, melainkan posisi konseptual,” terang Angga.
Kerangka karya dibatasi pada monokromatik hitam putih, spektrum hitam, putih, dan gradasi abu-abu sebagai pilihan artistik dan sikap kuratorial. Pembatasan ini tidak dimaksudkan sebagai pengekangan. “Melainkan sebagai medan yang menuntut ketajaman berpikir, ketegasan artikulasi visual, serta kepekaan terhadap struktur visual, cahaya, bayangan, tekstur dan materialitas karya,” papar Angga.
Antusiasme terhadap Grey Award 2026 tercermin dari total 931 karya yang dikirimkan oleh 710 seniman dari berbagai wilayah di Indonesia. Seluruh karya melalui proses seleksi oleh dewan juri Wiyu Wahono, Heri Pemad, dan Angga Aditya.
Dari tahap awal ini, terpilih 65 karya dari 60 seniman untuk dipresentasikan dalam pameran Grey Award 2026. Tahap selanjutnya akan menyaring 10 finalis terbaik untuk mengikuti wawancara kuratorial sebagai ruang dialog yang lebih mendalam mengenai praktik, gagasan, dan arah kerja seniman. “Dari proses ini, akan ditetapkan 3 seniman terbaik sebagai penerima Grey Award 2026,” kata Angga.
Lebih dari sekadar kompetisi, Grey Award dirancang sebagai jembatan yang membantu seniman, khususnya seniman muda, memasuki medan sosial seni rupa yang lebih luas. “Program ini membuka akses, membangun jejaring, serta memperkenalkan praktik artistik ke publik, kolektor, kurator dan institusi seni, sebagai bagian dari upaya penguatan karier dan keberlanjutan praktik seni,” tandasnya.
Pameran Terbuka untuk Publik
Pameran Grey Award 2026 dapat dikunjungi di Grey Art Gallery Braga Bandung. Galeri dibuka setiap hari, dengan jam kunjung weekday pukul 10.00–20.00 WIB dan weekend pukul 10.00–22.00 WIB.
Publik diundang untuk hadir dan mengalami secara langsung bagaimana monokrom hitam putih dirumuskan sebagai bahasa visual, sikap artistik, sekaligus perayaan dan respons terhadap zamannya.
Melalui Grey Cube dan Grey Award 2026, Grey Art Gallery menegaskan posisinya sebagai ruang yang tidak hanya menghadirkan karya, tetapi juga membangun struktur, percakapan, dan peluang bagi pertumbuhan ekosistem seni rupa kontemporer yang lebih luas dan berkelanjutan.
