Pandangan publik kerap kali hanya tertuju pada peran orang tua dalam ekosistem tumbuh kembang anak berkebutuhan khusus (ABK). Namun, ada sosok lain yang memegang kunci keberhasilan adaptasi sosial mereka dalam jangka panjang: saudara sekandung.

Muthia Devita, Coordinator Associate Pendidikan Inklusi Cikal, menekankan bahwa saudara kandung merupakan jembatan emosional dan sosial yang paling dekat bagi ABK. Kehadiran mereka sangat vital, terutama untuk menjamin keberlangsungan hidup ABK di masa depan, saat orang tua sudah tidak lagi mendampingi.

“Saudara sekandung memberikan pengalaman hidup nyata yang berkelanjutan. Mereka adalah teman interaksi harian yang membantu optimalisasi perkembangan ABK secara adaptif,” ujar Muthia.

Dua Fungsi Utama Saudara Kandung

  • Teladan Komunikasi dan Perilaku Sosial: Sebagai orang terdekat selain orang tua, saudara kandung menjadi role model yang paling mudah diamati. Melalui proses peniruan (imitasi), ABK belajar cara mengekspresikan keinginan, berbagi, hingga memahami aturan sosial yang berlaku di masyarakat.
  • Laboratorium Regulasi Emosi: Interaksi sehari-hari, mulai dari bermain bersama hingga konflik kecil, menjadi sarana belajar yang efektif. Di sinilah ABK berlatih mengenali emosi, menenangkan diri, dan memahami batasan-batasan dalam hubungan antarmanusia.

Membangun Kedekatan dan Mengatasi Tantangan

Membangun kedekatan antara ABK dan saudara kandungnya bukan melulu soal kuantitas waktu yang dihabiskan bersama, melainkan kualitas dari interaksi tersebut. Muthia juga mengungkap tantangan besar yang sering muncul, yakni adanya persepsi dari saudara kandung bahwa ABK adalah sosok yang sulit dipahami atau “orang lain”.

Untuk memecah sekat ini, peran orang tua sangat dibutuhkan dalam memberikan arahan yang tepat. “Orang tua perlu menciptakan lingkungan yang mendukung agar kedua anak mereka bisa saling memahami. Jika saudara kandung diberi kesempatan untuk mempelajari pola komunikasi ABK secara langsung, kualitas hubungan akan terbentuk dengan sendirinya,” tambah Muthia.

Melalui pendekatan yang inklusif di lingkungan keluarga, anak berkebutuhan khusus diharapkan dapat tumbuh lebih mandiri dan memiliki sistem pendukung yang kuat di dalam rumah mereka sendiri.